Senin, 13 Maret 2017

Nadzom Untuk Terhindar Dari sakit Mata


Bait Syair Penolak Sakit Mata

Seperti biasa, hari Ahad pagi semua santri Khozinatul 'Ulum Blora mengaji kitab Tafsir Jalalin bersama Bapak Pengasuh, KH. Muharror Ali.  Waktu itu, beliau membaca sampai pada surat yusuf yang mengisahkan bahwa Nabi Ayyub, Bapak dari Nabi Yusuf yang ketika itu kedua matanya tidak bisa melihat (buta) dikarenakan larut dalam kesedihan yang mendalam karena ditinggal oleh putranya Yusuf.  di sela-sela cerita ini, beliau yang akrab dikenal Yai Murarror memaparkan kepada santri-santrinya bahwa barang siapa yang hafal dua bait ini, maka akan terhindar dari segala macam penyakit mata. Kemudian beliau membacakan berulang-ulang 2 bait ini dan diikuti semua santri :

يَا نَاظِرَيَّ بِيَعْقُوْبَ اُعِيْذُ هُمَا # بِمَا اسْتَعَاذَ بِهِ اِذْ مَسَّهُ الْكَمَدُ
قَمِيْصُ يُوْسُفَ اِذْ جَاءَ الْبَشِيْرُ بِهِ # بِحَقِّ يَعْقُوْبَ اِذْهَبْ اَيُّهَا الرَّمَدُ


Minggu, 12 Maret 2017

Sholat li Unsil Qobri

Sholat li Unsil Qobri
Siang tadi aku di telfon salah satu anggota pengurus majlis taklim Al-Karomah. Beliau memberi kabar bahwa ada  salah satu ibuk-ibuk yang meninggal dunia. Semoga saja beliau yang telah di panggil yang maha kuasa termasuk yang husnul khotimah, di ampuni semua dosanya dan di terima semua amal baiknya serta mendapatkan tempat terbaik disisi-Nya. Sebagai anggota, saya hanya dapat ikut bela sungkawa dan tak lupa ikut serta mendoakannya. 

Sepontas teringat dengan amalan yang di berikan guru saya. Beliau menganjurkan jika ada sanak kerabat yang meninggal dunia hendaknya melakukan sholat dua rokaat di malam pertama ia di kebumikan. Sholat ini yang terkenal dengan sholat li unsil qobri. S3bagaimana hadist yang saya kutip dibawah ini :

روي عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال لا يأتى على الميت أشد من الليلة الأولى, فارحموا بالصدقة من يموت. فمن لم يجد فليصل ركعتين يقرأ فيهما: أي في كل ركعة منهما فاتحة الكتاب مرة, وآية الكرسى مرة, وألهاكم التكاثر مرة, وقل هو الله أحد عشر مرات, ويقول بعد السلام: اللهم إني صليت هذه الصلاة وتعلم ما أريد, اللهم ابعث ثوابها إلى قبر فلان بن فلان فيبعث الله من ساعته إلى قبره ألف ملك مع كل ملك نور وهدية يؤنسونه إلى يوم ينفخ فى الصور.

Diriwayatkan dari Rasulullah, Ia bersabda, “Tiada beban siksa yang lebih keras dari malam pertama kematiannya. Karenanya, kasihanilah mayit itu dengan bersedekah. Siapa yang tidak mampu bersedekah, maka hendaklah sembahyang dua raka‘at. Di setiap raka‘at, ia membaca surat Alfatihah 1 kali, Ayat Kursi 1 kali, surat Attaktsur 1 kali, dan surat Al-ikhlash 11 kali. Setelah salam, ia berdoa, ‘Allahumma inni shallaitu hadzihis shalata wa ta‘lamu ma urid. Allahummab ‘ats tsawabaha ila qabri fulan ibni fulan (sebut nama mayit yang kita maksud),’ Tuhanku, aku telah lakukan sembahyang ini. Kau pun mengerti maksudku. Tuhanku, sampaikanlah pahala sembahyangku ini ke kubur (sebut nama mayit yang dimaksud), niscaya Allah sejak saat itu mengirim 1000 malaikat. Tiap malaikat membawakan cahaya dan hadiah yang kan menghibur mayit sampai hari Kiamat tiba.” [Syekh Nawawi Albantani, Nihayatuz Zain, (Bandung, Almaarif) Hal. 107].

Untuk kesekian kalinya saya mengamalkan sholat ini, walaupun tidak sering. Semoga dapat menjadi barokah bagi saya hususnya dan manfaat bagi semua, terhusus bagi mereka yang sudah dipanggil sang kuasa. Amiin
Kang alie

Sabtu, 11 Maret 2017

Pengaduan Santri Kepada Sang Kyai




“KAGUMKU PADA SANTRIMU-KYAI-KU”
Yai,terus terang saya sangat kagum dengan para santri yai sekarang ini. Santri panjenengan  sekarang sudah sangat beda dengan santri jaman  dahulu.  Peradaban mereka sekarang  sudah semakin  maju, pola pikir mereka juga sudah semakin berpacu. Jika boleh tahu, suplemen tambahan apa yang panjenangan berikan pada makanan mereka yai? ataukah ada semacam metode “Nyantri kontemporer” yang baru panjenengan terapkan? Atau jangan-jangan ada “Doa dan Wirid” yang beda untuk santri-santri panjenengan yang sekarang ini? Sehingga,  jika dipaksa jujur, rasa-rasanya saya kok merasa amat sangat terpukau dengan para santri yai yang sekarang ini.
Bagaimana tidak yai,  Kini mereka sudah tak bisa dikata bodoh lagi. Santri panjenengan yang dulu-dulu tak punya waktu selain bergelut dengan ilmu, karena mereka memang merasa kurang tahu dan atau untuk sekedar memperdalam sesuatu yang ia baru tahu, sehingga terkesan bodoh nan dungu. Santri sekarang kok kiranya kurang sebegitu mau tahu dengan semua itu Yai,.... mereka lebih seru dengan bermain yang kurang bermutu, canda tawa atau sekedar bergurau. Husnudzon saya, jangan-jangan  mereka sudah mencapai maqom yang orang sebagai sosok PINTAR, sehingga tak perlu lagi apa itu yang namanya belajar...nopo leres ngoten nggeh yai?
Yai, Santri panjenengan juga sudah lebih berpengalaman di lapangan. Saya yakin, pelajaran mereka belum sampai “Babul Qordli” (bab hutang piutang)...tapi tahukah anda Yai...mereka dalam prakteknya lebih afqoh dan lebih handal. Buktinya banyak warung yang saya jumpai, tak sedikit nama-nama mereka yang tercantum dalam “Buku Besar” pemilik warung...lengkap dengan nominal rupiah yang mungkin akan membuat wali santri menjadi resah. Subhaanalloh banget kan yai? Mereka dapat melampaui kemampuan standar dari santri dulu. Apa ini yang dimaksud ilmu laduni ya yai?
Yai, panjenengan juga patut banyak bersyukur karena punya santri-santri yang saya rasa “selangkah lebih maju”. Walau secara penampilan ada yang terkesan belum cukup umur, tapi ternyata mereka sudah tak ada yang kecil lagi yai, tak ada lagi yang cengeng, tak ada lagi yang manja, semua sudah berjiwa dewasa. Buktinya, mereka semua sudah kenal apa itu cinta, bahkan apa itu asmara mereka sudah hafal dan faham diluar kepala. Muhafadzoh mereka bukan lagi tentang “Al Kalamu Huwallafdhu” melainkan sudah bergeser pada “Fashlun Fi Bayani I Love You & I Miss You”. Memang benar-benar hebat kan santri panjenengan yai? Tambah salut rasanya saya pada mereka. Jadi, kelak panjenengan ndak usah repot-repot memaknai gandul “Ana Uhibbiki atau Qolby Syauqun Laki” karena insya allah mereka sudah laduni dengan hal ini, kirang langkung ngoten yai.
Yai, ternyata santri-santri panjenengan juga sangat ahli dalam  “Rukyah dan Hisab”,  Hanya saja mungkin sedikit beda perspektif dalam dua hal tadi. Kaitannya dengan Rukyah... mungkin mereka terobsesi dengan hadis nabi “Innallaaha Jamiil Yuhibbul Jamal” (sesungguhnya Allah Dzat yang indah, dan suka dengan yang indah-indah). Sehingga jika ada wanita cantik sedang lewat...dengan khusyu’ tanpa berkedip mereka memandanginya, seraya berkata “Ma Syaa Allah La Quwwata Illa Billaah”. Suhaanalloh bangetkan yai santri panjenengan? Mubadzir kiranya  jika ada pemandangan indah terlewatkan begitu saja, toh mungkin juga seagai bukti mereka untuk bersyukur dengan karunia mata yang begitu dahsyatnya...”Fabiayyi Alaaairobbikuma Tukadzzibaan”... begitu kiranya yai…
Sedangkan dalam hal Hisab, saya yakin mereka lebih Alim soal ini. Walaupun MUI sudah memfatwakan rokok haram, tapi mereka amat sanagt tahu kalau fatwa ini bukan bersifat mengikat. Jadi, asalkan rokok masih terasa nikmat, ya sikat. Masalah fatwa mah, bodoh amat egitu penafsiran priadi saya kira-kira yai.kalau oleh menamahkan yai,  Rasanya ada nilai plus dalam urusan “Hisab” di pesantren panjenengan ini yai.... banyak para santri usia 11+  yang terkesan sudah mahir dalam bidang ini, tentu ini menjadi prestasi yang patut di acungi jempol kan yai?. Mereka sudah terlihat “Malakah” dalam urusan hisab ini yai. Ini terlihat dari cara mereka memegang , gaya nyedot mereka, serta trik-trik dan gaya menyemprotkan asapnya, begitu lihai dan sempurna. Atau jangan-jangan  mereka sudah pernah ikut pelatihan” Tafaqquh Bilhisaab”  bersama komunitas "Warka’u Maarrookiin" yai? perlu di apresiasi rasa-rasanya yai.
Bahkan beberapa senior dari “Fashoihurrokiin” sempat membuat syair tentang rokok. Kalaupun tidak salah tebak kemungkinan menggunakan Bahar Rojaz yai, begini syairnya :
بِجَارُوْمٍ اَوْ سُكُوْنٍ اَوْ سُوْرِيَا
يَنْبَغِي بَعْدَ اَكْلٍ اَنْ تُرَقَّعَ
Dengan rokok jarum atau suskun atau surya
Setelahmakan seaiknya engkau merokok
فَتَخْتَلِطْ بِاَثَارِ الْقَهْوَةِ
وَاِنْ تُرِيدْ زِيَادَةَ اللَّذّاَتِ
Maka lilitkan padanya dengan “lethek” kopi
Jika engkau ingin bertamah nikmat lagi

Yai, Hal lain yang membanggakan bagi saya,yakni santri panjenengan sekarang juga sudah tak lagi terkesan kumuh, kotor dan kampungan seperti dulu yai. Jika dulu, mereka memakai songkok dengan gaya sedikit miring, toh karena terlalu lama dipakai sampai berwarna kuning, serta sarung yang ngepir dan rambut kurang rapi karena jarang disisir. Tapi kini rasanya itu semua sudah tak ada lagi yai, Pakaian mereka sekarang serba mewah,  malahan ada sebagian santri panjenengan ketika keluar pakaiannya atas bawah harus serasi supaya terlihat rapi yai, juga tak lupa semprotkan minyak wangi supaya lebih percaya diri, kemajuan banget kan yai? Santri dulu banyak yang malas mencuci sendiri,sekarang  masalah itu tak ada lagi yai, karena sudah pada pindah kiblat ke laundry.
Yang lebih mencengangkan lagi yai, mereka  berlumba-lumba mengenakan pakaian yang mahalnya tak karu-karuan hanya menuruti trend gengsi yang berlebihan....walau terkadang uang syahriyah dan kos makan sekali kali menjadi korban. Kreatif banget kan yai? mungkin karena mengamalkan jargon “Fastabiqul Khoiroot” (berlumba lumba dalam kebaikan), karena “Katanya” yang lebih mahal lebih baik...begitu kira-kira yai.
Selain itu semua, masih banyak hal-hal yang saya kagumi pada santri-santri yai, semisal mereka juga lebih tawadu', sehingga ketika mereka sekolah dan mendapat nilai jelek, mereka Cuwek dan tidak ada greget untuk menjadi lebih baik dengan membenahi nilai.... hemat saya... mungkin karena mereka memang ikhlas...dan hawatir jika mendapat nilai baik terus akhirnya takabur. Mereka juga lebih santun, sehingga tak tega jika harus mendahului teman-temannya ketika berangkat sekolah maupun jamaah, sehingga memilih untuk berangkat telat. Ketika ro’an bersih bersiah atau piket kebersiahn, mereka mengalah, karena takut jika terkesan merebut pekerjaan teman mereka. Terahir, mereka juga tidak lagi gaptek, buktinya  mutola’ah mereka sudah jarang memahas masail diniyah, melainkan lebih sibuk dengan mutolaah faceook, twitter, whatsapp, youtube dan instagram serta part. Memang santri panjenengan subhanallah yai,,,sekali lagi….masya allah….

elmaelbougry

Senin, 20 Februari 2017

Hutang Kepada Anak2 Kita

Hutang Kita Banyak pada anak-anak

Tidak jarang, kita memarahi mereka saat kita lelah.
Kita membentak mereka padahal mereka belum benar-benar paham kesalahan yang mereka lakukan.
Kita membuat mereka menangis karena kita ingin lebih dimengerti dan didengarkan.

Tetapi,
seburuk apapun kita memperlakukan mereka, segalak apapun kita kepada mereka, semarah apapun kita pernah membentak mereka...
Mereka akan tetap mendatangi kita dengan senyum kecilnya.
Menghibur kita dengan tawa kecilnya,
Menggenggam tangan kita dengan tangan kecilnya,
Seolah semuanya baik-baik saja,
seolah tak pernah terjadi apa-apa sebelumnya.

Mereka selalu punya banyak cinta untuk kita,
meski seringkali kita tak membalas cinta mereka dengan cukup.

Kita bilang kita bekerja keras demi kebahagiaan mereka,
tetapi kenyataannya merekalah yang justru membahagiakan kita dalam lelah di sisa waktu dan tenaga kita.

Kita merasa bahwa kita bisa menghibur kesedihan mereka atau menghapus air mata dari pipi-pipi kecil mereka,
tetapi,
Sebenarnya kitalah yang selalu mereka bahagiakan.
Merekalah yang selalu berhasil membuang kesedihan kita,
melapangkan kepenatan kita, menghapus air mata kita.

Kita berhutang banyak pada anak-anak kita.
Dalam 24 jam, berapa lama waktu yang kita miliki untuk berbicara, mendengarkan, memeluk, mendekap dan bermain dengan mereka?

Dari waktu hidup kita bersama mereka, seberapa keras kita bekerja untuk menghadirkan kebahagiaan sesungguhnya di hari-hari mereka, melukis senyum sejati di wajah mungil mereka?

Tentang anak-anak,
Sesungguhnya merekalah yang selalu "lebih dewasa" dan "bijaksana" daripada kita.
Merekalah yang selalu mengajari dan membimbing kita menjadi manusia yang lebih baik setiap harinya.

Seburuk apapun kita sebagai orangtua, mereka selalu siap kapan saja untuk menjadi anak-anak terbaik yang pernah kita punya.

Kita selalu berhutang kepada anak-anak kita.
Anak-anak yang setiap hari menjadi korban dari betapa buruknya cara kita mengelola emosi.
Anak-anak yang terbakar residu ketidakbecusan kita saat mencoba menjadi manusia dewasa.
Anak-anak yang menanggung konsekuensi dari nasib buruk yang setiap hari kita buat sendiri.

Anak-anak yang barangkali masa depannya terkorbankan gara-gara kita tak bisa merancang masa depan kita sendiri.
Tetapi mereka tetap tersenyum, mereka tetap memberi kita banyak cinta, mereka selalu mencoba membuat kita bahagia.

Maka dekaplah anak-anakmu, tataplah mata mereka dengan kasih sayang & penyesalan, katakan kepada mereka:
"Maafkan untuk hutang-hutang yang belum terbayarkan"

Maafkan jika semua hutang ini telah membuat Allah tak berkenan.
Maafkan karena hanya pemaafan dan kebahagiaan kalianlah yang bisa membuat hidup ayah dan ibu lebih baik dari sebelumnya.
Iya, lebih baik dari sebelumnya.

Selamat memeluk anak-anak kita 🙂

Jumat, 30 Desember 2016

Pelajran Hidup


Curhatan Seorang Ibu

Ada Seorang ibu yang sowan untuk mengadukan nasib anaknya yang kian lama kian menjadi2 NDABLEGnya kepada seorang Kyai. 
Sang Kyai kemudian berkata "Ibu..yang sabar ya...Allah berarti masih sayang sama ibuk, sehingga Dia memberi cobaan sedemikian rupa kepada ibuk."
Lalu Kyai itu melanjutkan percakapannya "Saya contohkan; ada seorang siswa yang ramai sendiri ketika di ajar gurunya. Si Guru kemudian melemparnya dengan secuil kapur tulis dan mengenai dahinya. Lemparan guru itu tidak lain karena sayang dengan muridnya, Sang Guru hawatir jikalau muridnya nantinya tidak faham dengan pelajaran yang diajarkannya dan berdampak pada jelek nilainya. Jika si murid memang anak yang baik dan cerdas...maka ia akan langsung diam dan memperhatikan keterangan gurunya lalu menuruti apa yang jadi instruksi guru itu. Akan beda jika anak itu nakal  nan tolol...bisa jadi ia tidak memperhatikan gurunya malah akan mencari kapur yang dilemparkan kepadanya tadi."
"Maksudnya bagaimana pak Kyai?" tanya ibuk itu kebingungan....
"Begitulah hidup ini ibuk, Allah sangat sayang kepada kita. Ia tidak ingin jika kita terlalu jauh dari-Nya. Maka, kadang kala Ia melempar kita dengan beberapa cobaan, supaya kita lebih memperhatikan-Nya.  Allah memberikan anak yang sedikit REWEL kepada ibuk tak lain supaya ibuk bisa lebih PDKT kepada sang Khaliq. Karena pada hakikatnya Ialah yang membuat anak ibuk sedikit rewel dan Ia-pula lah yang kelak mengembalikan anak ibuk menjadi baik seperti sediakala. Ibuk tidak usah sibuk kebingungan dengan masalah anak ibuk,  sebagaimana contoh si murid nakal yang sibuk mencari cuilan kapur tadi,  tapi ibuk cukup menjadi cerdas dengan fokus pada siapa yang memberikan cobaan pada ibuk. Makan dari itu, Kejar Dia...Dekatilah Dia...karena Dialah yang Maha Tahu apa yang terbaik bagi hambanya dan Maha Kuasa untuk merubah dan membenahi nasib mahluk-Nya...."
Setelah panjang lebar bicara, Sang Kyai berpesan...
"Ibuk....kalau bisa, Lebih banyaklah meluangkan waktu untuk Allah, sholat dhuha yang biasa ibuk lakukan hanya 2 rokaat, tambah menjadi 4 atau bahkan 8 rokaat, mintakan rizki hidayah kepada Allah untuk anak ibuk. Tahajud ibuk yang biasanya hanya 10 menit, lebihkan menjadi 20 menit bahkan satu jam bila perlu. Pergunakanlah untuk munajat pada Allah agar memberikan petunjuk jalan yang benar pada anak ibuk.  Mintalah yang terbaik bagi keluarga ibuk, karena yang terlihat baik belum tentu baik pula bagi kita, begitu pula sebaliknya. Manusia hanya bisa ikhtiyar dan berdoa, adapun hasil final Dia-lah yang yang menentukannya.
Terakhir...Pada hakikatnya cobaan datang merupakan wujud sayang dari Tuhan kepada hamba-Nya...Tuhan ingin hamba-Nya lebih dekat kepada-Nya...dan kelak akan di ganjar dengan diangkatnya derajat di sisi-Nya. Amin..."... Pungkas sang Kyai atas Pesannya....
Akhirnya...Ibuk itu mengerti dan meminta undur diri dari hadapan Kyai dengan riang hati.  Setelah itu...sang ibuk mulai membiasakan rutinitas yang di dawuhkan sang Kyai tadi. 
Satu minggu, dua minggu...dan lama kelamaan ia mulai kerasan dengan kebiasaan tahajud panjangnya...dan lupa dengan kenakalan anaknya. Dan tanpa disadari Allah-pun merubah sikap anaknya menjadi anak yang soleh, berbakti pada orang tua, dan berguna bagi bangsa dan agama. Alhamdulillah....

Minggu, 28 Februari 2016

Munajat seekor burung

Celathu Seekor Burung

        Sudah belasan tahun yang lalu burung itu di masukan dalam sangkar. pertama kali ia masuk, walau sedikit berat terasa ia menjalaninya dengan apa adanya dan berusaha untuk beradaptasi dengan lingkungannya. Berkali kali ia berpindah sangkar, berpindah tangan dari satu majikan ke majikan lain pula. Lama kelamaan iapun kerasan dengan suasana yang ada. 

        Akan tetapi, Entah kenapa, semakin waktu bertambah, kini ini ia merasa bosan dengan rutinitas yang ada. Setiap pagi ia harus mengoceh riang setiap sang majikan memanggil dan memerintahnya untuk bernyanyi. Sesekali harus dipaksa mandi walau dingin menghantui. Tidak peduli ketika sedih ataupun senang, mata ngantuk ataupun terang, ketika lapar atupun kenyang, walau pun setiap hari maknan sudah selalu terhidang. Sering kali ia menangis dalam hati, walau mulut terlihat riang bernyanyi.


        Alam sadarnya mungkin hampir hilang, karena terlalu lama memendam perasaan bosan, Seakan ia ingin terbang lepas di alam liar di luar sangkarnya. Menghirup udara segar dan menyaksikan hingar bingar dunia luar. Ia bingung harus mengadu pada siapa, mencurahkan isi hati yang selama ini ia tutupi. Seakan akan ia telah lupa jika punya tuhan. Dalam gelimang kebingungannya dalam malam yang kelam...terlintas dalam benaknya untuk munajat, seketika ia bergegas mengambil air wudlu dan mengambil baju koko dan sarungnya, tak lupa songkok hitam ia kenakan lalu menggelar sajadahnya. 


        Setelah berdiri dua raka'at' ia pun tak kunjung bangun dari sujud panjangnya...ia berbisik dalam hati :
" tuhan...engkau maha mengetahui apa yang ada dalam hati hambamu ini..dan mengetahui yang terbaik baginya" seketika menetes air mata dari kedua mata burung yang malang ini.
"Tuhan...sungguh rasanya q tak kuat lagi berada dalam penjara ini, aku tak sanggup bila harus berdiam terus menerus disini...walau q sudah berusaha untuk bertahan..tapi rasanya benak ini sudah tak kuat lagi, tak kuat menahan jenuhnya rutinitas sehari. Aku sudah bosan berkicau, aku bosan dengan tugas  yang terkadang ku jalani dengan setengah hati, harus sampai kapan q mendekam di kerangkeng sempit yang penuh kejenuhan ini. Aku ingin keluar dari tempurung ini, aku ingin terbang bebas di alam luar sana. Tolong q tuhan...keluarkan q dari sini, bebaskan diriku dari perangkap ini".


        Tiba tiba ada suara berdengung memecah keheningan malam itu, "Berlatihlah untuk menerima kenyataan, jadilah burung yang Qona'ah, tak taukah engkau, jika keberadaanmu di dalam sangkar, keseharianmu berlatih berkicau, serta kesibukan tugas harianmu yang terkadang kau anggap beban bagimu, merupakan kelebihan bagimu, yang tak banyak dari sejenismu di luar sana memiliki kelebihan itu, bahkan hal itulah yang menjadikan dirimu lebih MAHAL dari yang lainnya. 

        Bersabarlah, semua akan indah ketika waktunya, nantilah massa dimana engkau telah mempunyai suara emas, terjun dalam perlombaan berkicau dan menjadi sang juara. Itulah yang seharusnya kau renungkan. Belum tentu apa yang kau inginkan dan kau anggap baik, lebih baik pula bagi dirimu, sebaliknya apa yang kau anggap jelek, berat, dan membosankan, terkadang itulah yang terbaik bagimu, ingat tuhanmu lebih tahu yang terbaik bagimu, jalani proses yang ada dengan sebaik baik mungkin untuk menyingsing hari esok. Jangan pernah mengeluh, karena mengeluh merupakan simbol berontak dengan kehendak tuhan. Jalani hari harimu dengan langkah sepenuh hati, dan yakinlah akan datang hari bahagia kelak nanti. Renungkanlah.