Selasa, 30 Oktober 2018

Umar bin khottob dan sekarung Gandum

Dream - Alkisah, tanah Arab tengah dilanda paceklik. Musim kemarau berjalan cukup panjang, membuat tanah-tanah di sana tandus.

Khalifah Umar bin Khattab kala itu tengah memimpin umat Islam menjalani tahun yang disebut Tahun Abu. Suatu malam, Khalifah Umar mengajak seorang sahabat bernama Aslam untuk mengunjungi kampung terpencil di sekitar Madinah.

Langkah Khalifah Umar terhenti di dekat sebuah tenda lusuh. Suara tangis seorang gadis kecil mengusik perhatiannya. Khalifah Umar lantas mengajak Aslam mendekati tenda itu dan memastikan apakah penghuninya butuh bantuan.

Setelah mendekat, Khalifah Umar mendapati seorang wanita dewasa tengah duduk di depan perapian. Wanita itu terlihat mengaduk-aduk bejana.

Setelah mengucapkan salam, Khalifah Umar meminta izin untuk mendekat. Usai diperbolehkan oleh wanita itu, Khalifah Umar duduk mendekat dan mulai bertanya tentang apa yang terjadi.

"Siapa yang menangis di dalam itu?" tanya Khalifah Umar.

"Anakku," jawab wanita itu dengan agak ketus.

"Kenapa anak-anakmu menangis? Apakah dia sakit?" tanya Khalifah selanjutnya.

"Tidak, mereka lapar," balas wanita itu.

Jawaban itu membuat Khalifah Umar dan Aslam tertegun. Keduanya masih terduduk di tempat semula cukup lama, sementara gadis di dalam tenda masih saja menangis dan ibunya terus saja mengaduk bejana.

Perbuatan wanita itu membuat Khalifah Umar penasaran. "Apa yang kau masak, hai ibu? Mengapa tidak juga matang masakanmu itu?" tanya Khalifah.

"Kau lihatlah sendiri!" jawab wanita itu.

Khalifah Umar dan Aslam segera melihat isi bejana tersebut. Seketika mereka kaget melihat isi bejana itu.

"Apakah kau memasak batu?" tanya Khalifah Umar dengan tercengang.

"Aku memasak batu-batu ini untuk menghibur anakku. Inilah kejahatan Khalifah Umar bin Khattab. Dia tidak mau melihat ke bawah, apakah kebutuhan rakyatnya sudah terpenuhi atau belum," kata wanita itu.

"Lihatlah aku. Aku seorang janda. Sejak pagi tadi, aku dan anakku belum makan apa-apa. Jadi anakku pun kusuruh berpuasa, dengan harapan ketika waktu berbuka kami mendapat rezeki. Namun ternyata tidak. Sesudah maghrib tiba, makanan belum ada juga. Anakku terpaksa tidur dengan perut kosong. Aku mengumpulkan batu-batu kecil, memasukkannya ke dalam panci dan kuisi air. Lalu batu-batu itu kumasak untuk membohongi anakku dengan harapan dia akan tertidur lelap sampai pagi. Ternyata tidak. Mungkin karena lapar, sebentar-sebentar dia bangun dan menangis minta makan," ucap wanita itu.

"Namun apa dayaku? Sungguh Umar bin Khattab tidak pantas jadi pemimpin. Dia tidak mampu menjamin kebutuhan rakyatnya," lanjut wanita itu.

Wanita itu tidak tahu yang ada di hadapannya adalah Khalifah Umar bin Khattab. Aslam sempat hendak menegur wanita itu. Tetapi, Khalifah Umar mencegahnya. Khalifah lantas menitikkan air mata dan segera bangkit dari tempat duduknya.

Segeralah diajaknya Aslam pergi cepat-cepat kembali ke Madinah. Sesampai di Madinah, Khalifah langsung pergi ke Baitul Mal dan mengambil sekarung gandum.

Tanpa mempedulikan rasa lelah, Khalifah Umar mengangkat sendiri karung gandum tersebut di punggungnya. Aslam segera mencegah.

"Wahai Amirul Mukminin, biarlah aku yang memikul karung itu," kata Aslam.

Kalimat Aslam tidak mampu membuat Umar tenang. Wajahnya merah padam mendengar perkataan Aslam.

"Aslam, jangan jerumuskan aku ke dalam neraka. Kau akan menggantikan aku memikul beban ini, apakah kau mau memikul beban di pundakku ini di hari pembalasan kelak?" kata Umar dengan nada tinggi.

Aslam tertunduk mendengar perkataan Khalifah Umar. Sembari terseok-seok, Khalifah Umar mengangkat karung itu dan diantarkan ke tenda tempat tinggal wanita itu.

Sesampai di sana, Khalifah Umar menyuruh Aslam membantunya menyiapkan makanan. Khalifah sendiri memasak makanan yang akan disantap oleh wanita itu dan anak-anaknya.

Khalifah Umar segera mengajak keluarga miskin tersebut makan setelah masakannya matang. Melihat mereka bisa makan, hati Khalifah Umar terasa tenang.

Makanan habis dan Khalifah Umar berpamitan. Dia juga meminta wanita tersebut menemui Khalifah keesokan harinya.

"Berkatalah yang baik-baik. Besok temuilah Amirul Mukminin dan kau bisa temui aku juga di sana. Insya Allah dia akan mencukupimu," kata Khalifah Umar.

Keesokan harinya, wanita itu pergi menemui Amirul Mukminin. Betapa kagetnya si wanita itu melihat sosok Amirul Mukminin, yang tidak lain adalah orang yang telah memasakkan makanan untuk dia dan anaknya.

"Aku mohon maaf. Aku telah menyumpahi dengan kata-kata dzalim kepada engkau. Aku siap dihukum," kata wanita itu.

"Ibu tidak bersalah, akulah yang bersalah. Aku berdosa membiarkan seorang ibu dan anak kelaparan di wilayah kekuasaanku. Bagaimana aku mempertanggungjawabkan ini di hadapan Allah? Maafkan aku, ibu," kata Khalifah Umar

Rabu, 17 Oktober 2018

Sabar Dan Syukur


Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Hadirin Hadirot  Rahimakumullah.
Hidup di dunia, tentunya tidak lepas dari cobaan-cobaan yang harus dihadapi dan tentunya patut kita disyukuri. Karena cobaan tersebutlah yang dapat digunakan sebagai batu loncatan untuk meningkatkan kualitas kita di sisi Allah SWT. karena kadang, Allah menguji hamba-Nya yang beriman untuk mengetahui kadar iman sesungguhnya dan tentunya ada hikmah di balik itu semua.
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ يَقُوْلُ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمِ مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهٖ خَيْرًا يُصِبْ مِنْهُ
“Dari Abi Hurairah RA. Berkata, Rasulullah SAW. bersabda: ‘Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan pada dirinya maka Dia (Allah) menimpakan bencana kepadanya’”. (HR. Bukhari)

Hadirin Hadirot Rahimakumullah.
Seorang mu’min, harus mampu menghadapi ujian dari Allah SWT. keberhasilan dalam menghadapinya adalah tangga untuk menuju derajat yang lebih tinggi sekaligus menunjukkan jati diri keimanannya. Rasulullah SAW. sangat menyukai ummatnya yang bisa menempatkan diri terhadap sabar dan syukur pada tepatnya. Dalam sebuah hadits dikatakan:
عَنْ صُهَيْبٍ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهٗ كُلَّهٗ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّآءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهٗ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّآءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرً لَهٗ

“Dari Shuhaib berkata, bersabda Rasulullah SAW.: ‘Luar biasa urusan orang mukmin, sesungguhnya semua urusannya itu baik, dan itu semua tidak dimiliki kecuali orang mukmin. Jika ia mendapat kebahagiaan ia bersyukur dan itu sangat baik baginya, jika ia mendapat cobaan, ia bersabar, dan itu sangat baik (pula) baginya’”. (HR. Muslim)
Dalam sebuah ayat, Allah SWT. berfirman:
وَلَنَجْزِيَنَّ الَّذِيْنَ صَبَرُوْا أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ

“Dan sungguh, kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan”. (QS. An-nahl/16: 96).

Begitu halnya dengan syukur terhadap setiap anugerah yang Allah limpahkan kepada kita. Gunakan nikmat yang Allah berikan dengan semaksimal mungkin untuk beribadah kepada-Nya, bukan malah menjadi penghalang antara kita dan Allah dan juga menjadi peluang bermaksiat kepada-Nya. Allah SWT. berfirman:
مَا يَفْعَلُ اللهُ بِعَذَابِكُمْ إِنْ شَكَرْتُمْ وَآٰمَنْتُمْ وَكَانَ اللهُ شَاكِرًا عَلِيْمًا

“Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman ? Dan Allah adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui”. (QS. An-Nisa’/4: 147)
Selain syukur, hidup seorang mukmin juga harus dihiasi dengan sabar ketika tertimpa musibah maupun sabar terhadap hal-hal yang dilarang Allah SWT. Umar RA. Berkata:
اَلصَّبْرُ صَبْرَانِ، صَبْرٌ عِنْدَ الْمُصِيْبَةِ وَصَبْرٌ عِنْدَ مَحَارِمِ اللهِ

“Sabar itu ada dua, sabar ketika mendapat musibah dan sabar terhadap hal-hal yang diharamkan Allah”
Kesabaran dari seorang mukmin adalah menjadi pelebur dosa-dosanya di akhirat kelak, sebagaimana sabda Rasulullah SAW. yang diriwayatkan oleh Aisyah RA dalam sebuah hadits:
مَا مِنْ مُصِيْبَةٍ تُصِيْبُ الْمُسْلِمَ اِلَّا كَفَّرَ اللهُ بِهَا عَنْهُ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا (رواه البخاري)

“Tidaklah ada musibah yang menimpa seorang muslim melainkan Allah menghapus dosanya dengan musibah itu, termasuk duri yang menusuknya”. (HR. Bukhari)

Hadirin Hadirot Rahimakumullah.
Seorang mukminseharusnya sadar betul bahwa ujian senantiasa akan menimpanya, baik berupa musibah maupun nikmat. Allah SWT. akan menguji seseorang sesuai kadar imannya, bila ia ridlo (sabar atas ujian tersebut), maka keridloan Allah akan meliputinya, sebaliknya jika murka, maka kemurkaan Allah jugalah yang akan meliputinya. Diriwayatkan dari Anas RA. Bahwa Rasulullah SAW. bersabda:
إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلَاءِ وَإِنَّ اللهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ (رواه الترمذي)

“Sesungguhnya besarnya pahala itu sesuai dengan besarnya ujian. Dan sesungguhnya ketika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menguinya, barang siapa ridlo maka ia mendapat keridloan, dan barang siapa murka, maka ia mendapat kemurkaan”. (HR. At-Tirmidzi)

Wassalamu’alaikum Warahmatullohi Wabarokatuh.

Kamis, 11 Oktober 2018

Materi

Jadi, Apa Jurnalistik Itu?
Jurnalistik adalah ruang lingkup seluruh proses dari penentuan tema, pengumpulan, pengolahan dan pengemasan informasi hingga penyebarluasannya pada masyarakat. Jadi, secara sederhana, jurnalistik meliputi berita, media massa dan wartawan. Biar lebih jelas, mari kita uraikan satu per satu.

Berita, merupakan hasil kerja jurnalistik. Untuk membuat berita kita harus lebih dulu mengumpulkan data yang sesuai dengan yang akan kita tulis.

Proses mengumpulkan data ini biasa disebut reportase. Setelah data terkumpul, kemudian kita menuliskannya. Data yang sudah kita tuliskan tersebut baru bisa disebut berita jika disebarluaskan pada masyarakat.

Alat yang digunakan untuk menyebarluaskan pada masyarakat tersebut adalah media massa. Bentuknya bisa buletin, koran, tabloid, majalah, radio atau televisi. Dan wartawan adalah pelaku yang terlibat dalam mengerjakan seluruh proses jurnalistik tersebut. Wartawan punya beberapa tingkatan.

Reporter, adalah wartawan yang bertugas mengumpulkan data lalu menuliskannya.

Isi bulletin

#Laporan utama berita
What (Apa) 

Apa yang sedang diberitakan ?

Who (Siapa)

Siapa saja yang sedang diberitakan ?

Where (Dimana)  

Dimana peristiwa itu terjadi ?

When (Kapan)

Kapan peristiwa itu terjadi ?

Why (Mengapa)

Mengapa peristiwa itu bisa terjadi ?

How (Bagaimana)

Bagaimana peristiwa itu terjadi ?

Ciri2 atau sifat berita yang baik

Faktual

Faktual berarti informas yang disampaikan dalam berita harus benar-benar nyata dan dapat dibuktikan kebenaranya. Berita yang disampaikan tidak boleh bersifat membohongi dan memprofokasi masyarakat


Aktual 

Informasi yang disampaikan dalam berita harus bersifat aktual, berarti peristiwa yiang sedang hangat-hangatnya dibicarakan dalam masyarakat. Tidak boleh memberikan berita yang telah basi, artinya berita yang disampaikan telah lama sekali beredar di masyarakat.


Seimbang

Berita yang disajikan harus seimbang, artinya tidak memihak salah satu pihak. Jika dalam berita tersebut memihak salah satu pihak maka akan menimbulkan keresahan dalam masyarakat serta berpotensi menimbulkan perpecahan. Hal yang harus dihindari dalam menyajikan adalah keberpihakan. Hal ini menjadi penting karena dapat menimbulkan dampak yang tidak baik.


Peristiwa penting

Berita harus berisi berita penting yang dibutuhkan oleh masyarakat. Berita yang penting memberikan informasi secara jelas dan tegas sehingga mudah di mengerti oleh masyarakat. Berita memberikan informasi yang dapat memberikan edukasi terhadap masyarakat. Redaksi tidak boleh menyampaikan berita yang tidak penting alias berita yang receh.


Lengkap

Berita yang baik harus mengandung unsur 5W+1H. Unsur tersebut adalah hal yang wajib ada supaya berita yang disajikan kepada masyarakat tidak ada kerancuan yang dapat menimbulkan ketidak percayaan masyarakat terhadap berita yang disajikan. Suatu peristiwa yang terjadi ketika hendak diberitakan kepada masyarakat luas hendaknya terlebih dahulu dievaluasi kelengkpan beritanya. Suatu redaksi tidak boleh memberikan informasi secara sepotong-sepotong atau setengah-setengah.


Menarik 

Berita harus bersifat menarik. Bahasa yang digunakan dalam berita adalah bahasa formal yang mudah dipahami artinya sehingga masyarakat tidak menimbulkan kesan monoton. Berita yang baik mempunyai judul berita yang dapat menarik perhatian masyarakat. Hal ini sangat penting karena berita yang bersifat menginforrmasikan harus diterima masyarakat supaya tidak ketinggalan informasi yang sedang marak dibicarakan.


Sabtu, 06 Oktober 2018

Ijazah Yai Sya'roni Kudus

IJAZAH DARI KH. SYA'RONI AHMADI KUDUS (Hafizhohullah)

1. Doa ketenangan hati
Dibaca 10 kali sesudah sholat fardhu

اللهم نور قلبي بنور هدايتك كما نورت الأرض بنور شمسك أبدا أبدا

Allahumma nawwir qolbii binuuri hidaayatika kamaa nawwarta al-ardho binuuri syamsika abadan abadaa.

2. Doa agar diberi rizki yang luas
Dibaca pagi 9 kali dan sore 9 kali

الله لطيف بعباده يرزق من يشاء وهو القوي العزيز

Allahu lathiifun bi 'Ibaadihii yarzuqu man yasyaa-u wa huwa al-qowiyyu al-aziiz

3. Doa kerukunan keluarga
Dibaca 10 kali pagi dan sore

ربنا هب لنا من أزواجنا وذرياتنا قرة أعين واجعلنا للمتقين إماما

Robbanaa hab lanaa min azwaajinaa wa dzurriyyaatinaa qurrota a'yunin waj'alnaa lil muttaqiina imaamaa

4. Doa dibaca waktu ada kesulitan

يا لطيف 129x

Yaa Lathiif (129 kali).

5. Doa dibaca untuk menghasilkan hajat
Dibaca 99 kali

اللهم صل على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه صلاة تعدل صلوات المصلين عليه

Allahumma sholli 'alaa sayyidinaa Muhammadin wa 'alaa aalihi wa shohbihii sholaatan ta'dilu sholawaatil musholliina 'alaih.

Silahkan diamalkan dengan menulis pada kolom komentar lafadz "qobiltu" semoga barokah.

Sumber: Nanal Ainal Fauz

Minggu, 01 Juli 2018

ISTIGHFAR SETELAH SHOLAT

Mereka Menyoal Istighfar Sesudah Shalat

Selama mereka masih tetap hobi menyalahkan amalan para Habaib dan Kyai, maka selama itu pula saya akan memberi jawaban, atas pertolongan Allah. kali ini mereka menyoal istighfar. kita awali dengan sumber utamanya:

عَنْ ثَوْبَانَ مَوْلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَنْصَرِفَ مِنْ صَلاَتِهِ اسْتَغْفَرَ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ

Dari Tsauban, budak yang dimerdekakan oleh Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallama, bahwa jika Nabi selesai dari salat maka beliau membaca istighfar 3 kali (HR Muslim, Abu Dawud dan lainnya)
.
Bentuk bacaan istighfar dijelaskan dalam riwayat:

قَالَ الْوَلِيدُ فَقُلْتُ لِلأَوْزَاعِىِّ كَيْفَ الاِسْتِغْفَارُ قَالَ تَقُولُ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ.

Al-Walid bertanya kepada Auzai tentang bacaan istighfar. Auzai menjawab: “Aku meminta ampunan kepada Allah, 2x” (HR Muslim)
.
Pada bab berikutnya Imam Abu Dawud menulis bab beberapa bacaan istighfar dari Nabi, diantaranya:

بِلاَلَ بْنَ يَسَارِ بْنِ زَيْدٍ مَوْلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ سَمِعْتُ أَبِى يُحَدِّثُنِيهِ عَنْ جَدِّى أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « مَنْ قَالَ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الَّذِى لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَىُّ الْقَيُّومُ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ غُفِرَ لَهُ وَإِنْ كَانَ فَرَّ مِنَ الزَّحْفِ ».

Dari Bilal bin Yasar bin Zaid, kakeknya mendengar Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallama bersabda: “Barangsiapa membaca ‘Aku meminta ampunan kepada Allah, Tiada Tuhan selain Dia, yang maha hidup, maha mengurus segala hal dan aku bertaubat kepada-Nya’, maka ia akan diampuni meski ia lari dari perang” (HR Abu Dawud. Dinilai sahih oleh Syekh Albani)
.
Kalau ditanya mana lafadz ‘Al-Adzim’ seperti yang anda baca? Jawab saja ada dalam riwayat Al-Hakim, ia menilai sahih. Al-Hafidz Adz-Dzahabi tidak memberi komentar apapun.

Apakah boleh bacaan istighfar tersebut dipakai sesudah salat? Boleh. Sebagaimana fatwa ulama Salafi berikut:

أولاَ: أستغفر الله 100 مرة، ثم أقول أستغفر الله وأتوب إليه مائة مرة، ثم أصلي ركعتين، ثم أقول: أستغفر الله العظيم الذي لا إله إلا هو الحي القيوم وأتوب إليه. فهل يجوز ذلك؟

“(Seseorang bertanya) Pertama, saya membaca istighfar 100x, saya membaca juga ‘Aku meminta ampunan kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya’, 100x. Kemudian saya salat 2 rakaat. Lalu membaca ‘Astaghfiullah Al-Adzim Alladzi Laa ilaaha illa Huwa Al-Hayyu Al-Qayyumu wa atubu ilaih’. Apakah hal itu boleh?”
.
والمطلوب منك أن تستغفر من جميع ذنوبك السالفة، ولكن لو تذكرت ذنباً عظيماً وزدت في الاستغفار منه خاصة فلا حرج في ذلك، وأما كيفية الاستغفار فالأمر فيها واسع، والطريقة التي تستخدمها صحيحة ولله الحمد. والله أعلم. المفتي: مركز الفتوى بإشراف د.عبدالله الفقيه (فتاوى الشبكة الإسلامية - ج 151 / ص 261)

“(Jawaban Fatwa) .... Dianjurkan bagi anda untuk membaca istighfar dari semua dosa terdahulu. Jika anda mengingat dosa besar dan anda menambahkan bacaan istighfar secara khusus, maka boleh. Sedangkan cara istifgfar dalam masalah ini luas. Cara yang anda lakukan sudah benar” (Fatawa Syabkah Al-islamiyah, Mufti Dr. Abdullah Al-Faqih)
.
Dengan demikian, dzikir paling utama tetap dzikir yang dibaca oleh Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallama. Dan membaca dzikir lainnya juga tetap diperbolehkan. Sebagaimana dalam riwayat yang juga dinilai sahih oleh Syekh Albani berikut:

عَنْ أَنَسٍ أَنَّهُ كَانَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- جَالِسًا وَرَجُلٌ يُصَلِّى ثُمَّ دَعَا اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ بِأَنَّ لَكَ الْحَمْدَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ الْمَنَّانُ بَدِيعُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ يَا حَىُّ يَا قَيُّومُ. فَقَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « لَقَدْ دَعَا اللَّهَ بِاسْمِهِ الْعَظِيمِ الَّذِى إِذَا دُعِىَ بِهِ أَجَابَ وَإِذَا سُئِلَ بِهِ أَعْطَى ».

Dari Anas bahwa ia bersama dengan Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallama sembari duduk. Dan ada seseorang sedang salat. Lalu berdoa dengan doa berikut.... Kemudian Nabi shalla Allahu alaihi wa sallama bersabda: “Sungguh ia telah berdoa kepada Allah dengan nama-Nya yang agung. Jika Ia diminta dengannya maka Ia akan mengabulkan. Dan jika Ia diminta dengannya maka Ia akan memberikan.” (HR Abu Dawud)
.
meski shahabat ini membaca dzikir sesudah salat bukan dengan dzikir yang dibaca oleh Nabi, ternyata Nabi tidak menyalahkan apalagi mengatakan dzikir turun temurun, mengarang-ngarang atau mencari keuntungan. Lalu mereka ini sebenarnya meniru siapa?

Ma'ruf Khozin
Anggota Aswaja NU Center PWNU Jatim

Senin, 04 Juni 2018

PREDIKSI LAILATUL QODAR

قال الغزالي وغيره إنها تعلم فيه باليوم الأول من الشهر فإن كان أوله يوم الأحد أو يوم الأربعاء فهي ليلة تسع وعشرين
أو يوم الاثنين فهي ليلة إحدى وعشرين
أو يوم الثلاثاء أو الجمعة فهي ليلة سبع وعشرين
أو الخميس فهي ليلة خمس وعشرين
أو يوم السبت فهي ليلة ثلاث وعشرين
قال الشيخ أبو الحسن ومنذ بلغت سن الرجال ما فاتتني ليلة القدر بهذه القاعدة المذكورة.
إعانة الطالبين (2/ 257)

Imam Al_Ghozali dan ulama' yg lain berkata,sesungguhnya lailatul qodar itu bisa diketahui dari awal hari permulaan bulan :
jika awalnya jatuh pada hari ahad atau rabu maka lailatul qodar jatuh pada malam ke 29.
jika awalnya jatuh pada hari senin maka lailatul qodar jatuh pada malam ke 21.
jika awalnya jatuh pada hari selasa atau jum'at maka lailatul qodar jatuh pada malam ke 27.
jika awalnya jatuh pada hari kamis maka lailatul qodar jatuh pada malam ke 25.
jika awalnya jatuh pada hari sabtu maka lailatul qodar jatuh pada malam ke 23

Syeh Abul Hasan As_Syadzili berkata :
"Semenjak saya menginjak usia dewasa lailatul qodar tidak pernah melesat dengan jadwal tersebut."

Kamis, 12 April 2018

Amalah jumat terahir rojab

AMALAN JUM'AT TERAKHIR BULAN RAJAB

1. Membaca Istighfar 700/70/7 kali sebelum sholat Jum'at dari KH. Maimoen Zubair :

أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ الَّذِي لاَ اِلهَ إِلاَّ هُوَ الْـحَيُّ الْقَيُّوْمُ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ تَوْبَةً عَبْدِ ظَالِمٍ لاَ يـَمْلِكُ لِنَفْسِهِ ضَرًّا وَلاَ نَفْعًا وَلاَ مَوْتًا وَلاَ حَيَاةً  وَلاَ نُشُوْرًا

(Astaghfirullahal'adhim alladzi lâ ilâha illâ huwal hayyul Qoyyum wa atuubu ilaiih taubata 'abdin dzolimin la yamliku linafsihi dhorron walâ naf'an  walâ mautan wa la hayâtan wa lâ nusyuuro)

Artinya : "Aku memohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung Yang tiada Tuhan selain Dia    Yang Maha Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya) dan saya taubat pada-Nya dengan taubat seorang hamba yang dzalim yang tak bisa berbuat apa-apa dalam menghadapi kematian, kehidupan, dan kebangkitan".

Barang siapa yang membacanya 700/70/7 kali sebelum khotib naik mimbar pada Jum'at terakhir bulan Rajab, maka akan dimudahkan rizqinya sepanjang tahun.

2. Membaca ini ketika khatib sedang berkhutbah sebanyak 35 kali :

أَحْمَدُ رَسُوْلُ اللهِ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ
(Ahmadu Rosululloh Muhammadun Rosululloh)

NB: Bagi kaum pria lebih afdhal dibaca di antara dua khutbah agar khutbah tetap bisa disimak dengan khusu'.

Dan untuk wanita yang tidak hadir ke masjid, pembacaannya diperkirakan khatib sudah ada di minbar.

💠 Fatwa Habib Salim bin Abdullah as-Syathiri ihwal amalan kaya di jumat terakhir bulan Rajab:

(فائدة مهمة) قد جاء فى كنز النجاح والسرور ان من قرأ فى آخر جمعة من رجب والخطيب على المنبر أحمد رسول الله محمد رسول الله خمسا وثلاثين مرة لا تنقطع الدرهم من يده تلك السنة .السؤال كيف يقرأ والخطيب على المنبر وهو فى نفس الوقت مأمور بالانصات الجواب أنه ليس من شروط القراءة التلفظ بل استحضارها بالقلب يكفي او يقرأ حال الجلوس على المنبر قبل الخطبة او يقرأ حال الدعاء او الترضي من الصحابة لان المراد بالانصات حال الخطبة هو الانصات حال استماع اركان الخطبة لاغير.اه‍
والله اعلم بالصواب واليه المرجع والمآب

Dalam kitab Kanzun Najah Was Surur disebutkan bahwa barangsiapa membaca “Ahmad Rosulullah, Muhammad Rosulullah” sebanyak 35 kali di jumat terakhir bulan Rajab pada saat khatib di atas mimbar, maka selama setahun tangannya tidak akan pernah kosong dari uang.

Bagaimana kita membacanya? Sedangkan khotib di atas mimbar , dan di waktu itu kita di perintahkan untuk diam mendengar khutbah ?

Jawab : tidak disyaratkan untuk membacanya dengan mulut akan tetapi di dalam hati saja sudah cukup, atau di baca ketika khotib duduk di mimbar sebelum khutbah, atau ketika do’a untuk para sohabat, karena yang di maksud untuk diam di dalam khutbah (الإنصات ) adalah diam mendengarkan rukun khutbah, bukan yang lainnya.

Semoga Allah memberikan kemudahan dalam segala urusan dan usaha kita dan senantiasa melimpahkan rahmat-Nya dan menjadikan kita min ibadihi assholihin Aamiin...

اللهم صل وسلم على سيدنا محمد وعلى اله وصحبه اجمعين