Jumat, 17 Maret 2017

GOLONGAN MANUSIA DI PADANG MAHSYAR

,,🌺 Seram sejuk bila baca ;         
*DUA BELAS (12) GOLONGAN MANUSIA DI PADANG MAHSYAR          =======================================*
1.🌺  *Dibangkitkan dalam keadaan tanpa tangan dan kaki.* Mereka adalah orang yang ketika di dunia suka mengganggu jiran tetangga.

2.🌺  *Dibangkitkan dalam keadaan menyerupai babi.* Mereka adalah golongan yang malas dan lalai dalam solatnya.

3.🌺  *Dibangkitkan dalam keadaan perut membesar dengan di dalamnya penuh dengan ular dan kala jengking* kerana di dunia mereka tidak membayar zakat.

4.🌺  *Dibangkitkan dalam keadaan mulutnya mengalir darah* kerana ketika berniaga , mereka suka menipu.

5.🌺  *Dibangkitkan dalam keadaan lebih buruk dan busuk daripada bangkai* kerana ketika di dunia, mereka selalu melakukan maksiat secara sembunyi kerana takut dilihat orang , tetapi tidak takut kepada Allah S.W.T.

6.🌺  *Dibangkitkan dalam keadaan leher terputus* kerana ketika di dunia selalu memberi kesaksian palsu.

7.🌺  *Dibangkitkan dalam keadaan tanpa lidah* kerana selalu berdusta ketika di dunia.    
    
8.🌺  *Dibangkitkan daripada kubur dalam keadaan kepala terssungkur, sedangkan kedua – dua kakinya di atas kepala dan farajnya mengeluarkan nanah yang mengalir seperti air* kerana ketika hidup, golongan ini suka berzina dan mati sebelum sempat bertaubat.     
   
9.🌺  *Dibangkitkan dalam keadaan wajah yang hitam tetapi matanya biru dan perutnya di penuhi api* kerana ketika di dunia, mereka selalu memakan harta anak yatim secara zalim.   

     
10.🌺  *Dibangkitkan dalam keadaan sopak dan kusta* kerana ketika hidup di dunia dia menderhaka kepada orang tua.  
   
11.🌺  *Dibangkitkan dalam keadaan buta hati, giginya seperti tanduk, bibirnya menjulur sampai ke dada, lidahnya sampai keperut manakala perutnya pula menjulur sehingga ke paha dengan perutnya penuh kekotoran* kerana ketika hidupnya, mereka gemar meminum arak.
        
12.🌺  *Mereka yang dibangkitkan daripada kubur dengan wajah bercahaya seperti bulan purnama dan melepasi sirat’ (titian Mustaqim) seperti kilat* kerana golongan itu ketika hidupnya rajin beramal soleh, meninggalkan maksiat dan menjaga solat lima waktunya dengan berjemaah.         

*Sekarang Anda mempunyai ② (dua) pilihan;*         
①. Biarkan Tulisan ini berada di PAGE ini, dan orang lain tidak membaca.
        
②. Menyebarkan ke-teman Anda yang lain dengan meng-Klik ‘‘BAGIKAN’’ agar orang lain ikut termotivasi dan Insya Allah Anda mendapat PAHALA.
        
*‘‘...Undzur ma Qaala, Wala Tandzur man Qaala...’’*

Kang Alie
Copas Dari Sumber Lain
Semoga mangaat

Kutipan Sejarah Yang Terselip

*MEMOTONG SEJARAH PERAN ULAMA*

Dahulu, ada tokoh pendidikan internasional, namanya  *Dr. Sudjatmoko* _(Rektor Universitas PBB)._

Beliau pernah berkata, pada zaman akhir ini, alternatif pendidikan terbaik adalah *pondok pesantren,* dengan catatan: _*memakai manageman modern.*_

Secara metode mengaji tetap memakai _*salafiyah,*_ namun dalam hal tata-kelola menggunakan manageman *modern*.

_Santri pondok pesantren itu ampuh._

_Di tanah Jawa ini, yang paling ditakuti penjajah Belanda adalah santri dan tarekat._

Ada seorang santri yang juga penganut _tarekat,_ namanya *Abdul Hamid.*

Ia lahir di Dusun _Tegalrejo, Kecamatan Tegalrejo, Yogyakarta._

Mondok pertama kali di Tegalsari, Jetis, Ponorogo kepada _*KH Hasan Besari.*_

*Abdul Hamid* ngaji _kitab kuning_ kepada _*Kyai Taftazani Kertosuro.*_

Ngaji _Tafsir Jalalain_ kepada _*KH Baidlowi*_ Bagelen yang dikebumikan di Glodegan, Bantul, Jogjakarta.

Terakhir *Abdul Hamid* ngaji _ilmu hikmah_ kepada _*KH Nur Muhammad*_ Ngadiwongso, Salaman, Magelang.

*Abdul Hamid* sangat berani dalam berperang melawan penjajah Belanda selama lima tahun, 1825-1830.

*Abdul Hamid* wafat dan dikebumikan di *Makassar*, dekat Pantai Losari.

*Abdul Hamid* adalah _Putra *Sultan Hamengkubuwono ke-III*_ dari istri Pacitan, Jawa Timur.

*Abdul Hamid* patungnya memakai jubah dipasang di Alun-alun kota Magelang.

Menjadi nama di Kodam Jawa Tengah.

Terkenal dengan nama: *Pangeran Diponegoro.*

_Belanda resah menghadapi perang Diponegoro._

Dalam kurun lima tahun itu, uang kas Hindia Belanda habis, bahkan punya banyak hutang luar negeri.

Nama aslinya *Abdul Hamid.*
Nama populernya *Diponegoro*.

Adapun nama lengkapnya adalah _*Kyai Haji Bendoro Raden Mas Abdul Hamid Ontowiryo Mustahar Herucokro Senopati Ing Alogo Sayyidin Pranotogomo Amirul Mu’minin Khalifatullah Tanah Jawi Pangeran Diponegoro Pahlawan Goa Selarong.*_

Tidak hanya *Diponegoro*, anak bangsa yang didik para ulama menjadi tokoh bangsa.

Diantaranya, di Yogjakarta ada seorang ulama bernama *Romo K Sulaiman Zainudin* di Kalasan Prambanan.

Punya santri banyak, salah satunya bernama *Suwardi Suryaningrat.*

_Suwardi Suryaningrat_ ini kemudian oleh pemerintah diangkat menjadi Bapak _Pendidikan Nasional_ yang terkenal dengan nama *Ki Hajar Dewantara.*

Jadi, *Ki Hajar Dewantara* itu santri, ngaji, murid seorang ulama besar.

Sayangnya, sejarah *Ki Hajar* mengaji _al-Quran_ tidak pernah diterangkan di sekolah-sekolah, yang diterangkan hanya _*Ing Ngarso Sun Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani.*_
Itu sudah baik, namun belum komplit.
Belum utuh.

Maka nantinya, untuk rekan-rekan guru, mohon diterangkan bahwa *Ki Hajar Dewantara*  selain punya ajaran _Tut Wuri Handayani,_ juga punya ajaran _*al-Quran al-Karim.*_

Perlu diketahui bahwa ketika Indonesia merdeka, ada _*sayyid*_ warga _Kauman Semarang_ yang mengajak bangsa kita untuk bersyukur.

Sang _Sayyid_ tersebut menyusun lagu syukur.

Dalam pelajaran Sekolah Dasar disebutkan *H Mutatar.*

_H Mutahar_ Itu bukan _Haji Muthahar_, namun *Habib Husein Muthahar*, yang menciptakan lagu syukur.
Beliau adalah Pak Dhenya _Habib Umar Mutohar SH_ Semarang.

Jadi, yang menciptakan lagu syukur yang kita semua hafal adalah seorang _*sayyid*_, cucu baginda Nabi.

Mari kita nyanyikan bersama-sama.

_*Dari yakinku teguh*_
_*Hati ikhlasku penuh*_
_*Akan karuniamu*_
_*Tanah air pusaka*_
_*Indonesia merdeka*_
_*Syukur aku sembahkan*_
_*Kehadiratmu tuhan*_

Itu yang menyusun cucu nabi, *Sayyid Husein Muthahar,* warga kauman Semarang.

Akhirnya oleh pemerintah waktu itu diangkat menjadi _Dirjen Pemuda dan Olahraga._

Terakhir oleh pemerintah dipercaya menjadi _Duta Besar di Vatikan,_ negara yang berpenduduk _Katholik_.

Di _Vatikan_, *Habib Husein* tidak larut dengan kondisi, malah justeru membangun masjid.   _Hebat !!!_

Lebih hebatnya lagi, *Habib Husein Muthahar* menyusun lagu yang hampir se-Indonesia hafal semua.

Suatu ketika *Habib Husein Muthahar* sedang duduk, lalu mendengar adzan shalat dzuhur.

Sampai pada kalimat _*hayya alas shalâh*_, terngiang suara adzan.

Sampai sehabis shalat berjamaah, masih juga terngiang.
Akhirnya hatinya terdorong untuk membuat lagu yang cengkoknya mirip adzan, ada *“S” nya, “A” nya, “H”* nya.

Kemudian pena berjalan, tertulislah:

_*17 Agustus tahun 45*_
_*Itulah hari kemerdekaan kita*_
_*Hari merdeka nusa dan bangsa*_
_*Hari lahirnya bangsa Indonesia*_
_*Merdeka*_
_*Sekali merdeka tetap merdeka*_
_*Selama hayat masih dikandung badan*_
_*Kita tetap setia tetap setia*_
_*Mempertahankan indonesia*_
_*Kita tetap setia tetap setia*_
_*Membela negara kita*_

Maka peran para ulama, kyai dan para _sayyid_ tidak sedikit dalam pembinaan patriotisme bangsa.

Malahan, *Bung Karno,* ketika mau membaca teks proklamasi di Pegangsaan Timur Jakarta, minta didampingi putra ulama atau kyai.

Tampillah seorang dari kampung _Batu Ampar_, *Maya Kumbung,* Sumatera Barat.
_Siapa beliau?_
*H. Mohammad Hatta.*
Beliau putra ulama.

*Bung Hatta* adalah putra _Ustadz Kyai Haji Jamil,_ Guru _*Thariqah Naqsyabandiyyah – Kholidiyyah*_.

Akhirnya, *Bung Hatta* menjadi wakil presiden pertama.

Sayang, sejarah *Bung Hatta* adalah putra ulama dan putra penganut _*tarekat*_ tidak pernah dijelaskan di sekolah, yang diterangkan hanya *Bapak Koperasi*.

_Mulai sekarang, mari kita terangkan sejarah dengan utuh._
_Jangan sekali-kali memotong sejarah._
_Jika anda memotong sejarah, suatu saat, sejarah anda akan dipotong oleh Allah SWT.

Kang Alie
Copas dari Sumber lain
Semoga bermanfaat.
*اللهم صل على محمد

Kamis, 16 Maret 2017

Dalil Naqly tentang Nasab Nabi Muhammad yang bersih

Dalil Naqly tentang Nasab Nabi Muhammad yang bersih


Nabi Muhammad SAW merupakan sosok yang dipersiapkan Allah SWT sebagai makhluk paling sempurna. Karenanya Allah memelihara benar nenek moyang yang menjadi cikal-bakal melahirkan Nabi Muhammad SAW.

Nabi Muhammad SAW dilahirkan dari nenek moyang yang patuh kepada Allah SWT. Mereka semua dipelihara oleh Allah SWT agar tidak melakukan dosa-dosa besar seperti penyembahan berhala, berzina, menumpahkan darah orang lain, dan perbuatan keji lainnya.

Syekh Ibrahim Al-Baijuri menyebutkan sejumlah dalil naqli yang menjelaskan dalam karyanya keimanan dan kesucian nenek moyang hingga kedua orang tua Nabi Muhammad SAW yang kami kutip sebagai berikut.

إذا علمت أن أهل الفترة ناجون على الراجح علمت أن أبويه صلى الله عليه وسلم ناجيان لكونهما من أهل الفترة بل جميع آبائه صلى الله عليه وسلم وأمهاته ناجون ومحكوم بإيمانهم لم يدخلهم كفر ولا رجس ولا عيب ولا شئ مما كان عليه الجاهلية بأدلة نقلية كقوله تعالى  وَتَقَلُّبَكَ فِي السَّاجِدِينَ وقوله صلى الله عليه وسلم لم أزل أنتقل من الأصلاب الطاهرات إلى الأرحام الزكيات وغير ذالك من الأحاديث البالغة مبلغ التواتر

Artinya, “Kalau kau mengerti bahwa ahli fatrah itu selamat dari siksa neraka menurut pendapat rajih (yang kuat), maka tentu kamu mengerti bahwa kedua orang tua Rasulullah SAW selamat dari siksa neraka karena keduanya ahli fatrah. Bahkan semua bapak moyang Rasulullah SAW (hingga ke Nabi Adam AS) selamat dari siksa neraka. Kita memutuskan bahwa mereka adalah orang-orang beriman tanpa tercederai oleh kekufuran, perbuatan keji, perilaku aib, dan perilaku buruk apapun yang lazim di zaman Jahiliyah. Pendapat ini didasarkan pada dalil naqli seperti firman Allah SWT dalam Surat As-Syu‘ara ayat 219 yang berbunyi, ‘Dan ketika engkau bolak-balik dalam orang-orang yang sujud (sembahyang)’; dan sabda Rasulullah SAW ‘Aku senantiasa berpindah-pindah dari tulang-tulang sulbi yang murni ke rahim-rahim yang suci’, dan banyak hadits lain yang statusnya mutawatir,” (Lihat Syekh Ibrahim Al-Baijuri, Hasyiyah Tuhfatil Murid ala Jauharatit Tauhid, Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabaiyah, tanpa tahun, halaman 19).

Sejumlah dalil naqli itu kemudian dideskripsikan ulang dalam bentuk syair yang indah dalam Al-Barzanji, kitab yang lazim dibaca warga Ahlusunnah wal Jamaah NU yang kami kutip sebagai berikut.

حفظ الإله كرامة لمحمد/آباءه الأمجاد صونا لاسمه
تركوا السفاح فلم يصبهم عاره/من آدم وإلى أبيه وأمه

Artinya, “Tuhan memelihara kemuliaan Nabi Muhammad SAW/bapak moyangnya yang mulia demi menjaga namanya (Nabi Muhammad SAW).
Mereka meninggalkan zina sehingga aib tidak mencoreng muka/sejak Nabi Adam AS hingga bapak dan ibunya,” (Lihat Barzanji Natsar dalam Majmu’atul Mawalid wal Ad’iyah, tanpa tahun, Jakarta, Al-‘Aidrus, halaman 76).

Dari dua dalil naqli yang disebutkan oleh Syekh Al-Baijuri ini, kita dapat menyimpulkan bahwa sejak Nabi Adam AS nenek moyang hingga kedua orang tua Nabi Muhammad SAW adalah orang baik yang saleh dan taat beragama. Di samping itu mereka semua adalah orang-orang yang dipelihara oleh Allah dari perbuatan-perbuatan tercela.

Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka dalam menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq
Wassalamu ’alaikum wr. wb.

IJAZAH PENANGKAL "UDUNEN"


Kali ini saya akan memaparkan secara singkat ijazah dari Romo Yai Muharror Ali, disela-sela ngaji mingguan Tafsir Jalalin beliau menyampaikan bahwa jika ingin terhindar dari penyakit "Udunen" atau ingin lekas sembuh darinya, maka bacalah surat Al-Qolam ayat 16-20. dengan tata cara sebagai berikut :
  • Ayat 15-19 dibaca, kemudian sampai ayat ke 20 ayat ini diulang 7x.
  • Kemudian bacaan tersebut diulang sapai 7x.
  • Al hasil, ayat 15-19 dibaca sebanyak 7x, sedangkan ayat ke 20 sebanyak 49x (7x7).
Setelah itu oleskan benjolan yang sakit dengan air liur bekas bacaan ayat-ayat tadi. insya Allah "Calon Udun" yang baru tumbuh akan segera kempis, atau jika memang "Udun" tersebut sudah besar, maka akan segera pecah dan sembuh.
Hal ini sudah saya praktekkan berkali-kali dan Alhamdulillah setelah mendapatkan ijazah ini saya belum pernah lagi terjangkit penyakit "Udunen". Selamat dan semoga bermanfaat.

Kang Alie 

Selasa, 14 Maret 2017

MUHASABAH GUS MUS

*MUHASSABAH GUS MUS*

Acara Gus Mus semalam (13-3-2017) dihadiri oleh Kapolda Jabar (Anton Charliyan), Aster Pangdam Jabar, Walikota Bandung (Ridwan Kamil), Ketua PWNU Jabar, Mustasyar PWNU Jabar, seluruh PCNU Jabar, unsur2 NU (banser, fatayat, IPNU, muslimat, dll), dan jamaah bandung dan sekitarnya.

Kapolda Jabar waktu kasih sambutan menyampaikan harapannya pada NU yang dalam sejarah selalu menjadi pembela terdepan keutuhan bangsa. Ketua PWNU Jabar juga menyampaikan tentang komitmen NU yang sejak dulu selalu menjadi tameng untuk kepentingan bangsa yang lebih besar, walaupun risikonya sering menjadi bulan-bulanan muslimin yang lain (kalau istilah sekarang siap di-bully ramai2 untuk menyelamatkan bangsa).

Walikota Ridwan Kamil, selain menyampaikan harapan besarnya pada NU, dia juga bilang bahwa dalam darahnya mengalir darah “hubbul wathan” nya NU. Dia mengharapkan NU bisa menjadi yang terdepan dalam menangkal zaman penuh fitnah dan hoax ini. Bisa menampilkan Islam yang ramah, bukan Islam yang marah yang belakangan terlihat dimana2. Islam yang Rahmatan lil ‘alamiin. Bukan Islam yang pandai kutip2 ayat untuk kepentingan kelompoknya (tepuk tangan hadirin bergemuruh).

Beliau menghimbau semua kita mensyukuri nikmat luar biasa yang dimiliki bangsa Indonesia ini, sambil mengutip ayat “Fa bi ayyi aalaaa’i rabbikuma tukadzibaan”. Nikmat Tuhan kamu yang manakah yang engkau dustakan? Kita bangsa Indonesia ini aman, sejahtera, dll. Coba lihat negara2 timur tengah, lihat Iraq, Afghanistan, Yaman, Suriah, dll. Lalu lihat negara ini yang kita bisa tidur, ibadah, kerja dengan aman dan nyaman. Apakah kita rela untuk merusak nikmat ini?

Selanjutnya pembicara utama Gus Mus mengawali ceramahnya dengan mengatakan bahwa sebagaimana judul acara ini “Muhassabah”, maka saya akan lebih banyak mengkritik NU bukan memuji2nya. Beberapa pesan penting dari Gus Mus antara lain adalah:
(a) Seperti disampaikan pembicara2 sebelumnya, NU selalu bergerak paling depan untuk membela keutuhan bangsa. Saat ini bangsa sedang diancam oleh kelompok2 yang berusaha memecah belah kerukunan bangsa, lalu dimana NU? Sedang tidurkah? Beliau menceritakan bahwa sehabis ini para kyai sepuh akan berkumpul di Rembang untuk membahas masalah mutakhir bangsa ini. Terpaksa kyai sepuh akan turun gunung, karena yang muda2 banyak yang malah tertarik ikutan euphoria. Kenapa? Apa gentar sama takbir2nya? Lalu melanjutkan dengan menjelaskan makna dari takbir dengan memberikan begitu kecilnya kita dibanding seluruh ciptaan Allah yang Maha Luas. Apa yang mau kita sombongkan? Allah yang Maha Besar itu kok diajak ikut kampanye, diajak ikut ke TPS urusan lima tahunan. Apa ndak kebangeten banget itu?!

(b) Beliau cerita pengalamannya bicara berdua dengan Gusdur sambil tiduran di lantai. Beliau bilang ke Gusdur, kalau NU itu dari dulu ndak naik2 pangkatnya, jadi Satpam terus. Kalau ada sesuatu bahaya, maka NU maju ke depan (seperti sewaktu resolusi jihad, sewaktu DI/TII, PKI, dll). Tapi begitu bahayanya hilang, NU kembali duduk di pojokan sambil rokokan. Begitu terus, ini gimana nih gus? Jawaban Gusdur seperti biasa langsung membuat diskusi berhenti. Allah yarham Gusdur menjawab: *“Apa masih kurang mulia kalau kita bisa jadi Satpam nya bangsa ini?”* Dan Gusmus pun terdiam tidak bisa melanjutkan omongannya.

(c) Beliau juga berpesan untuk berhati2 terhadap yang disebutnya Ulama. Ulama memang pewaris para nabi, tapi ulama yang mana? Harus diteliti track record dari yang mengaku Ulama tersebut. Umat ini dibingungkan dengan ulama yang ngeluarkan fatwa sembarangan tanpa ilmu dan tanpa mempertimbangkan dampaknya pada masyarakat luas. Kalau perbedaan pendapat itu biasa, sejak dulu ada. Beliau cerita kalau dulu para kyai itu kalau berdebat seberapapun tajamnya sebisa mungkin berusaha santri2nya tidak tahu. Sehingga sering kalau saling serang itu dengan menggunakan syair2 berbahasa Arab dengan harapan santri2 masing2 tidak ikutan panas2an. Lha sekarang ini, pimpinannya ribut ngajak2 jamaahnya. Menyedihkan. Lalu saling sebut kubu yang berbeda dengan sebutan munafik, kafir, dll. Sampai2 belakangan ada yang melarang jenazahnya disholatkan. Apa ndak menjijikkan sekali itu? Lha kalau yang sudah meninggal ndak urusan. Itu kan kewajiban yang hidup, yang dosa ya yang hidup bukan yang sudah meninggal. Lalu menceritakan kemarahan besar Nabi saw terhadap salah seorang sahabat yang membunuh seseorang yg mengucapkan La ilaha illa Llah karena mengatakannya Munafik.

(d) Yang dibilang Ulama jaman sekarang ini mau ikut2an berpolitik, padahal sebenarnya tidak ngerti politik. Dan terus bawa2 agama, padahal ya nggak terlalu ngerti agama. Ya apa ndak kacau balau jadinya.

(e) Gusmus berpesan kepada jamaah untuk tidak mengungkapkan sesuatu, menulis sesuatu, atau menshare sesuatu yang dapat dipersepsikan mendukung kelompok2 pemecah belah itu. Kalau tidak mampu berhujjah melawan, lebih baik DIAM. Kalau mau tulis, ungkapkan yang baik2, hal2 yang positif, tulis sendiri saja, tidak cuman share2 tulisan orang lain.

(f) Gusmus menyampaikan bahwa apa yang terjadi sekarang ini adalah hanya pengulangan2 sejarah yang lampau. Sambil mencontohkan kejadian sewaktu zaman khalifah Utsman bin Affan. Dimana fitnah2 bertebaran, informasi2 hoax disampaikan dari mulut ke mulut. Sehingga akhirnya memuncak dengan rakyat yang melakukan pemberontakan (makar) terhadap khalifah Utsman yang akhirnya menyebabkan terbunuhnya beliau. Ingat beliau dulu juga dilarang oleh umat waktu itu untuk dishalatkan di Masjid Nabawi, sehingga akhirnya dishalatkan di rumah beliau sendiri. Karena itu pelajarilah sejarah, karena seringkali sejarah itu berulang.

(g) Gusmus juga berpesan bahwa pada setiap shalawatan, sebaiknya didahului dengan kisah Syama’il ar-Rasul saw, dijelaskan tentang kepribadian beliau SAW. Jadi ummat itu tahu bagaimana akhlaq Nabi saw. Sehingga bisa jadi dasar untuk menilai apakah yang mengaku2 ulama itu memang pantas disebut para pewaris nabi atau tidak. Allah SWT dalam al-Quran dari awal sampai akhir tidak pernah memuji fisik Rasulullah (walaupun fisiknya dan ketampanannya sempurna), tidak pernah memuji ilmu Rasul saw (walaupun ilmunya tak ada yang menandingi), hanya Allah memuji keluhuran Akhlaq beliau SAW (wa innaka la ‘alaa khuluqin adziem). Oleh karena itu jadikan akhlaq sebagai dasar utama penilaian. Karena itulah tujuan diutusnya Nabi kita saw kepada kita semua.

Ziarah Kubur Bid'ah

Suatu ketika seorang Habaib dari Hadramaut ingin menunaikan ibadah haji dan berziaroh ke kakeknya Rasulullah SAW. Beliau berangkat dengan diiringi rombongan yang melepas kepergiannya. Seorang Sulton di Hadramaut, kerabat Habib tersebut, menitipkan Al-Qur’an buatan tangan yang terkenal keindahannya di jazirah arab pada saat itu untuk disampaikan kepada raja Saudi.

Sesampai di Saudi, Habib tersebut disambut hangat karena statusnya sebagai tamu negara. Setelah berhaji, beliau ziarah ke makam Rasulullah. Karena tak kuasa menahan kerinduannya kepada Rasulullah, beliau memeluk turbah Rasulullah. Beberapa pejabat negara yang melihat hal tersebut mengingkari hal tersebut dan berusaha mencegahnya sambil berkata, “Ini bid’ah dan dapat membawa kita kepada syirik.” Dengan penuh adab, Habib tersebut menurut dan tak membantah satu kata pun.

  ;
Beberapa hari kemudian, Habib tersebut diundang ke jamuan makan malam raja Saudi. Pada kesempatan itu beliau menyerahkan titipan hadiah Al Quran dari Sulton Hadramaut. Saking girang dan dipenuhi rasa bangga, Raja Saudi mencium Al Qur’an tersebut!

Berkatalah sang Habib, “Jangan kau cium Qur’an tersebut… Itu dapat membawa kita kepada syirik!” Sang raja menjawab, “Bukanlah Al Qur’an ini yang kucium, akan tetapi aku menciumnya karena ini adalah KALAMULLAH!”

Habib berkata, “Begitu pula aku, ketika aku mencium turbah Rasulullah, sesungguhnya Rasululullah-lah yang kucium! Sebagaimana seorang sahabat (Ukasyah) ketika menciumi punggung Rasulullah, tak lain adalah karena rasa cinta beliau kepada Rasulullah. Apakah itu syirik?!”

Tercengang sang raja tak mampu menjawab.
Kemudian Habib tersebut membaca beberapa bait syair Layla Majnun yang berbunyi,
ﻣﺮﺭﺕ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺪﻳﺎﺭ ﺩﻳﺎﺭ ﻟﻴﻠﻰ ## ﺃﻗﺒﻞ ﺫﺍﺍﻟﺠﺪﺍﺭ ﻭﺫﺍﺍﻟﺠﺪﺍﺭ
Marortu ‘alad diyaari diyaaro laila # Uqobbilu dzal jidaari wa dzal jidaaro
Aku melewati sebuah rumah, rumah si Layla # dan aku menciumi setiap dinding-dindingnya
ﻓﻤﺎ ﺣﺐ ﺍﻟﺪﻳﺎﺭ ﺷﻐﻔﻦ ﻗﻠﺒﻲ ## ﻭﻟﻜﻦ ﺣﺐ ﻣﻦ ﺳﻜﻦ ﺩﻳﺎﺭﺍ
Fa ma hubbud diyaar, syaghofna qolbi # Wa lakin hubbu man sakana diyaro
Bukankah karena aku mencintai sebuah rumah yg membuat hatiku hanyut dlm cinta # akan tetapi krn cintaku kpd sang penghuni rumah....

Karomah Yai Hamid Pasuruan

Suatu ketika, Kiai Hamid dipanggil oleh Kodim. Di markas tentara itu, Kiai Hamid diperintah untuk menandatangani berkas untuk memberikan dukungannya pada Golkar.
Dipinjamilah bolpoin untuk menandatangani surat tersebut. Namun sayang, saat Kiai Hamid menggoreskannya di surat itu, seketika bolpoinnya tak mengeluarkan tinta.
Begitu terus hingga ganti bolpoin beberapa kali. Tak ada yang mempan. Sampai akhirnya tentara itu jengah dan suruh menggantinya dengan cap jempol.

“Pakai cap jempol saja, Kiai,” ujar salah satu tentara.
Kiai Hamid pun menuruti. Namun keanehan terjadi. Saat jempol waliyullah itu menempelkan jempolnya pada surat dukungan tersebut, yang membekas bukanlah sidik jarinya. Akan tetapi yang membekas justru lambang kakbah di kertas itu. Lambang yang menjadi logo PPP.
Seketika itu, para tentara melepaskan kiai yang kharismatik tersebut.

— —————————
Cerita disampaikan oleh Rois Syuriah Ranting NU Sumberrejo Pak Mustofa, dari gurunya, Kiai Abdullah Syafi’i Pakis Sawi saat menyampaikan di pengajian umum. Kiai Abdullah yang tak lain teman sejawat Kiai Hamid kala nyantri di Mbah Maksum Lasem mendapat kabar saat bertemu di kediaman Kiai Hamid.