Rabu, 20 Februari 2019

Ngaji rabu

Kewajiban-Kewajiban Orang Mukmin

(Catatan Pribadi Ngaji Malam Selasa 11/02/2019)

Ada sebuah hadist yang diriwayatkan Imam Turmudzi RA, yang diceritakan oleh Abi Dzar al-Ghifari dan Muadz bin Jabal :

عن أبي ذر ومعاذ بن جبل أن رسول الله صلى الله عليه وسلم أنه قال: (اتق الله حيثما كنت واتبع السيئة الحسنة تمحها وخالق الناس بخلق حسن) رواه الترمذي

Artinya, "Takutlah kamu kepada Allah dimanapun kamu berada, ikutilah perbuatan yang buruk dengan perbuatan yang baik, niscaya perbuatan yang baik akan menghapus perbuatan yang buruk, dan kepada sesama manusia hendaknya kamu menggunakan akhlaq yang baik.

Dalam hadist ini ada tiga kewajiban orang mukmin yaitu (1) "Haqu Allahi ta'ala" atau kewajiban hamba kepada Allah SWT yaitu takwa kepada Allah dalam lafadz "Itaqillah khaisumma kunta". (2) "Haqu al-mukalaf" atau kewajiban hamba terhadap dirinya sendiri, dan (3) "Haqu al ibad" atau kewajiban hamba kepada orang lain.

1. Kewajiban Hamba kepada Allah SWT

Kewajiban seorang hamba kepada Allah yang dimaksud dalam hadist ini adalah lafadz "Itaqillaha khaisumma kunta" atau "Takutlah Kamu kepada Allah dimanapun Kamu berada". Berkaitan dengan takwa ini, ada ayat yang mashur dan fenomenal yaitu :

"وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ"

Artinya : Barangsiapa takut kepada Allah, maka Allah akan memberi jalan keluar, dan rizki dari arah yang tidak disangka-sangka.

Ayat ini turun berkenaan dengan cerita salah seorang sahabat Nabi yaitu Auf bin Malik al-Asja'i yang oleh Allah diberi tiga ujian yang sangat berat. Ujian dari Allah yang pertama bagi Auf bin Malik al-Asja'i ini adalah melarat. Ujian berupa mlarat  adalah seberat-berat ujian sampai Nabi bersabda :
"كاد الفقر يكون كفرا"

Artinya, "Hampir saja, kefakiran itu menjadikan kekufuran".

Saking beratnya ujian mlarat yang berani berdoa menjadi orang mlarat hanya Nabi Muhammad yaitu :

"اللهم أحيني مسكينًا وأمتني مسكينًا"

Artinya: "Ya Allah jadikan hidupku mlarat sampai mati dalam keadaan mlarat"

Doa itu berbeda dengan kebanyakan doa yang dipanjatkan orang. Kebanyankan pasti meminta rizki yang lancar, barakah dan banyak. Oleh karena itu, Nabi memberi nasihat kepada orang miskin bahwa mutiara orang yang miskin adalah ridla, apabila ridla doanya mustajabah. Dalam keterangan lain Nabi berkata "Qiyamut dunya arbaatin", yang salah satunya adalah doa orang miskin. Itulah sebabya KH. Abdul Djalil bin Mustaqim dawuh, "Nek due acara opo-opo ojo tinggal wong fakir" atau "Bila punya acara apapun, jangan lupa dengan orang Fakir". Oleh karena itu, sudah jadi tradisi di sini (Bumi Damai Al-Muhibbin Bahrul Ulum Tambakberas) setiap acara Rojabiyah ada acara santunan fakir miskin.

Seingat saya, (KH. Mohammad Idris Djamaluddin), KH. Abdul Djalil bin Mustaqim mantu yang diramaikan hanya satu kali tapi langsung tiga. Acaranya diramaikan di gedung pertemuan tapi walaupun di gedung pertemuan, di depan gedung ada beberapa mobil box yang berisi nasi untuk membagikan makanan kepada orang fakir miskin yang lewat di gedung tersebut. Itulah contoh dawuh Beliau "Ojo dilalekne wong Fakir", karena orang Fakir doanya Mustajabah.

Nah, Auf bin Malik al-Asja'i ini, diberi ujian mlarat, tidak hanya mlarat tapi ujian yang kedua adalah istrinya sakit (keterangan dari KH. Mohammad Djamaluddin Ahmad sakit jantung). Gabungan ujian sakit dan mlarat adalah gabungan ujian yang sangat tidak enak. Kalau ada orang mlarat tapi sehat, itu adalah nikmat yang besar lebih mendingan daripada kaya tapi sakit-sakitan. Kalau kaya tapi sakit-sakitan masih ada harapan untuk mencari pengobatan seperti ke Malaysia, Singapura atau China.

Seperti dulu ketika saya (KH. Mohammad Idris Djamalauddin) masih mondok membaca artikel bahwa yang punya Jawa Pos, Dahlan Iskan, Beliau pernah menulis artikel bersambung ketika mengidap kangker sorosis kemudian dioperasi ganti liver di China, pada saat itu menghabiskan biaya 3 Milyar. Nah ini kalau kaya sakit-sakitan. Seperti Milyader pengusaha kapal dan minyak Setiawan Jodi, punya sakit kanker sirosis, periksa di China habis 10 Milyar. Tidak masalah karena kaya. Yang berat adalah apabila mlarat dan sakit dikumpulkan jadi satu. Kalau sekarang ada BPJS sebenarnya adalah untuk menghindari dua perkara itu berkumpul. Sampai ada pepatah joke, "Miskin jangan sakit!".

Selain mlarat dan istrinya sakit-sakitan, Auf bin Malik memiliki satu anak yang bernama Salim yang kira-kira umur 7-10 Tahunan dan belum baligh. Ketika Salim sedang bermain, Salim diculik oleh seseorang. Lengkaplah penderitaan dari Auf bin Malik, mlarat, punya istri sakit-sakitan, anak satu-satunya diculik orang. Akhirnya Auf bin Malik sowan kepada Nabi Muhammad, Nabi dawuh:

"يا عوف اتق واصبر وَأكْثر  لَا حول وَلَا قُوَّة إِلَّا بِاللَّه الْعلي الْعَظِيم"

Artinya, "Ya Auf, takutlah kamu kepada Allah, bersabarlah dan perbanyak membaca la khaulaquawata....".

Pertama, nasihat nabi kepada Auf bin Malik yang terkena musibah adalah wasiat takwa kepada Allah. Karena apabila tidak takwa, pasti akan mencari solusi yang tidak benar. Mencari teman yang kliru dan pelampiasan yang tidak benar. Kalau takwa kepada Allah akan menjadi rajin ke masjid, mengikuti majelis taklim dan ngaji.

Nasihat Nabi yang kedua kepada Auf bin Malik adalah sabar. Arti dari sabat adalah aktif, dan tidak pasif. Tipis sekali perbedaan antara orang yang sabar dan orang yang putus asa, tipis sekali perbedaan antara orang tawakal dengan orang sabar. Orang yang sabar usahanya tidak putus-putus tapi untuk urusan hasil dipasrahkan kepada Allah SWT.

Contoh sabar dengan usaha tidak putus-putus seperti Kiai Abdul Djalil Mustaqim, sekelas Mursid yang Kamil Mukamil, ketika beliau menderita sakit jantung, Beliau "kerso" operasi di Surabaya.  Bahkan pada saat itu ada metode operasi baru dari Jerman, Kiai Djalil "kerso" menjadi percobaan dari metode operasi baru tersebut, dengan tanda tangan tidak akan menuntut jika terjadi sesuatu. Kenapa Beliau "kerso"?. Karena apabila metode itu berhasil, yang beliau lakukan menjadi sumbangan kemanusiaan.

Begitulah Kiai Djlail, walaupun telah menjadi "mursid kamil mukamil" beliau tetap ikhtiar. Padahal pada lain kesempatan Beliau pernah menyampaikan kepada Kiai Maskun, "Aku iki wegah Kun, urip sue-sue, wegah ngeramut awak" atau (Aku malas kalau hidup berlama-lama, malas merawat fisik). Walaupun dawuh Beliau seperti itu, beliau tetap berikhtiar secara lahir dengan melakukan operasi di Surabaya. Sampai ada metode baru, penanganan sakit jantung beliau mau menjadi percobaan dan tanda tangan tidak akan menuntut apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Kiai sepuh seperti Mbah Kiai Husain yang umurnya telah mencapai 90 tahun pun "kerso" dioperasi, bahkan beliau dawuh, "Kulo purun dioperasi, tapi kulo emoh dibius total". Jadi ketika beliau dioperasi, beliau masih sadar dan masih bisa ngobrol dengan dokternya. Inilah contoh bahwa sabar adalah aktif bukan pasif.

Apabila ada orang bermasalah dalam perekonomian lalu berkata, "Kita diuji seperti ini bersabar sajalah, seperti apa yang dikatakan dalam ngaji-ngaji bahwa rizki tidak akan keliru "Inna rizqa yathlubu al abda, kama yathlubu ajaluh" bahwa rizki itu akan mencari seserorang seperti halnya kematian". Pernyataan ini benar tapi berupaya, berusaha dan berikhtiar adalah kewajiban bagi setiap manusia. Inilah contoh sabar itu aktif dan tidak pasif, oleh karena itu, berbeda orang sabar dan orang putus asa. Tapi ada juga orang yang sudah berusaha tapi tidak sabar sampai protes kepada Allah. Mbah Kiai Maskun pernah bercerita bahwa beliau berobat dan sudah menelan biaya yang banyak. Tapi beliau tetap berikhtiar.

3. وَأكْثر  لَا حول وَلَا قُوَّة إِلَّا بِاللَّه الْعلي الْعَظِيم

Memperbanyak membaca la khaula wa la quawata illa billahil aliyil adhim

Kemudian Auf pulang mengajak istrinya melakukan tiga perkara tersebut yaitu itaqillah, sabar dan memperbanyak membaca la khaula wala quwata ilabilahil aliyil adhim. Sehingga dia selalu berikhtiar kesana kemari mencari anaknya, juga mencarikan pengobatan untuk istrinya. Ditambah setiap malam membaca La khaula wa la quwata..." dengan sabar dan istiqomah.

Seperti Abah Yai yang juga sabar,  telaten, dan istiqomah. Saking sabarnya terkadang ketika beliau sakit dan diberi apapun dari temunya seperti obat-obatan tetap beliau minum, walaupun belum tahu khasiatnya. Kalau ditanya, "Kok diminum to Bah, kan belum tahu khasiatnya?". Beliau menjawab, "Idkholus surur, membahagiakan orang yang memberi".

Akhirnya, di tengah malam, Auf dan istrinya mendengar suara berisik di luar rumah. Ketika dilihat ternyata Salim, putra dari Auf datang. Saking bahagianya mereka saling berpelukan, dan Salim membawa banyak kambing. Ditanya oleh Auf, "Salim, bagaimana Kamu bisa tiba-tiba pulang dengan membawa banyak kambing?". Salim menjawab, "Saya diculik orang musrik Pak, tujuannya agar saya jadi budaknya untuk menggembalakan kambingnya, untungnya Pak, orang musrik yang menculik saya ini, suka mabuk-mabukan, nah ketika dia mabuk,  kambingnya saya giring kemari".

Lalu Auf berkata kepada Salim, "Itaqilaha, nanti dulu, kambing ini adalah kambing curian, kita tanyakan dulu ke Kanjeng Nabi. Kemudian Auf bin Malik  sowan kepada Nabi. Ternyata Nabi telah mendapat informasi tentang Auf dari Malaikat Jibril, dengan membawa ayat :

"وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ"

Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah akan diberi jalan keluar dan rizki dari arah yang tidak disangka-sangka.

Nabi berkata, "Auf, karena kamu bertaqwa, ketika anakmu hilang, kamu diberikan jalan keluar oleh Allah, lalu Allah memberikamu rizki dari arah yang tidaj disangka-sangka, kambing-kambing itu semua milikmu, karena sekarang adalah musim perang antara kita dan orang musrik, maka  peraturan perang lah yang berlaku, dalam peraturan perang, barang yang dirampas menjadi ghanimah dan hal itu halal". Auf bertanya, "Siapa yang berhak atas ghanimah?". Nabi menjawab, "Ya, orang yang mengambil, dalam hal ini adalah anakmu (Salim), oleh karena itu, kambing-kambing itu telah menjadi milikmu". Bukti bahwa orang yang bertaqwa kepada Allah diberi rizki dari arah yang tidak disangka-sangka.

Di dalam kitab "Najalisus Tsaniyah", ada cerita tentang kefenomenalan ayat tersebut apabila dibaca. Pada suatu ketika ada satu kaum yang sedang menaiki perahu. Tiba-tiba ada keanehan, mereka yang berada di perahu melihat seseorang yang berjalan di atas air dan mengimbangi kecepatan perahu tersebut. Karena ada hal yang aneh, semua yang berada di kapal melihat ke arah orang tersebut.

Kemudian orang yang berjalan di atas berkata, "Siapa, yang mau memberiku seribu dinar, maka akan aku ganti dengan satu kalimat". Uang satu dinar setara dengan 4,25 gram emas. Para penumpang kapal tidak mau karena uang 1.000 Dinar hanya untuk satu kalimat.

Tapi diantara orang-orang itu ternyata ada yang mau menukar uang 1.000 dinarnya dengan satu kalimat tersebut. Orang tersebut berpikir bahwa, orang yang menawarkannya satu kalimat tersebut adalah orang yang aneh dan luar biasa, pasti yang akan diberikan juga kalimat yang aneh dan luar biasa. Kemudian orang yang mau menukar seribu dinar dengan satu kalimat tersebut berkata, "Ini uang seribu dinar, terimalah!". Dengan menyodoran satu kantong uang. Orang yang berjalan di atas air berkata, "Lemparkan, lemparkan uang itu ke laut". Ternyata uangnya tidak untuk diambil, tapi diperintahkan untuk membuang ke laut.

Lalu orang berjalan di atas air berkata, "Ini hafalkan dan peganglah". Orang yang menukarkan uangnya berkata, "Apa itu?". Orang yang berjalan di atas air berkata, "Wa man yataqilahaa....". Teman-teman satu kapal meneriaki kepada orang yang berjalan di air, "Huiiiiiiiii, kalau kalimatnya hanya itu Kami juga hafal!". Padahal yang menjadikan kalimat itu berbeda adalah mahar yang diberikan kepada orang yang berjalan di atas air.

Oleh orang yang telah menukarkan uang seribu dinarnya, ayat ini selalu dibaca. Terus menerus dan berulang-ulang.  Diwaktu kemudian ada badai yang menerjang kapal tersebut, seluruh penumpang kapal tenggelam, ada yang ingin mengamalkan ayat "wa man yataqillaha", tapi tidak bisa, karena tidak ada maharnya. Hanya satu orang yang tetap mengamalkan ayat tersebut, lalu dia mengambil papan yang mengapung hingga selamat dan terdampar di sebuah pulau terpencil.

Anehnya, di pulau terpencil itu, ada seorang perempuan muda yang cantik. Ketika dilihat kakinya masih berpijak di tanah dan punggungnya tidak bolong, akhirnya ditanya oleh laki-laki itu, "Kamu siapa, kok bisa di sini?". Perempuan cantik itu menjawab, "Aku ini seperti Kamu Mas, dulunya saya naik kapal, kapalku pecah, lalu menaiki papan yang mengapung dan sampailah aku di sini".

Kemudian perempuan itu bercerita, "Mas, di sini ini saya takut, karena ada jinnya, jin itu setiap hari datang untuk merayuku agar mau jadi istrinya". Laki-laki bertanya, "Apa bisa Mbak, manusia kawin dengan Jin?". Perempuannya jawab, "Bisa Mas!".

Ada cerita dulu di Tambakberas ada anak santri yang kawin dengan jin. Malah  Kiai Mustofa Bisri pernah bercerita ketika Beliau sambang santrinya yang mondok di Saudi. Di sana ternyata santrinya telah memiliki istri dari bangsa jin. Nah, anak pondok yang enggak ndang-ndang menikah itu seprtinya masih menunggu Jin, karena Jin itu kalau cantik, ya cantik sekali.

Nah, perempuan yang terdampar di pulau tersebut setiap hari didatangi jin untuk dinikahi. Untungnya Allah memberi pertolongan kepada perempuan ini bahwa jin ini tidak bisa menyentuhnya. Sebaliknya perempuan tersebut juga tidak bisa pergi kemana-kemana, karena telah terdampar di pulau tersebut. Akhirnya, laki-laki yang terdampar berkata, "Mbak, bisa tidak kamu mengatur supaya ketika jin itu datang menemuimu, saya tetap bisa melihat dia, tapi dia tidak bisa melihat saya?". Perempuan menjawab, "Bisa Mas!".

Kemudian disaat-saat menjelang kedatangan jin, laki-laki itu disembunyikan di sebuah gua kecil. Perempuan itu berkata, "Anda bersembunyilah di sini, biasanya waktu-waktu seperti ini, jinnya keluar dari arah laut". Tiba-tiba jin dari kejauhan datang dari arah laut, tiba-tiba juga laki-laki itu berteriak :

"وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِب"

Setelah ayat itu dibaca, tiba-tiba ada api yang menyambar jin kemudian ia terbakar lari dan tidak kembali. Lalu si perempuan berkata, "Mas, saya sudah mengitari pulau ini dan tidak ada orang sama sekali, nah ketika saya mengitari pulau ini saya menemukan sesuatu, ayo Mas, saya antarkan ke tempat itu".

Kemudian di satu tempat di pulau itu, keduanya menemukan intan,  emas, dan banyak harta karun. Sepertinya itulah harta yang ditunggu oleh jinnya. Dua orang ini akhirnya mencari bala bantuan sampai akhirnya ada kapal yang mendekat dan membawa seluruh harta karunnya. Inilah diantara asababun nuzul dan keutamaan dari ayat :

"وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِب"

Berkaitan dengan ketakwaan, betapa ketakwaan itu bisa menurun dan dapat menurunkan keturunan yang luar biasa. Sahabar Umar bin Khatab RA ketika menjadi khalifah, beliau berjuluk "Amirul al-Mu'minin", karena yang pertama kali mendapat julukan Amirul Mukminin adalah sahabat Umar bin Khatab. Sudah merupakan kebiadaan Sayidina Umar setiap malam beliau ronda dan keliling ke rumah-rumah untuk mengetahui apakah ada dari rakyatnya yang terlewat dalam hal santunan dan pelayanan.

Suatu ketika beliau menjumpai satu rumah yang masih menyala. Lalu dibalik batu rumah itu Sayidina Umar mendengar percakapan antara dua perempuan.  Satu suara perempuan yang    masih muda dan yang satu suara perempuan yang sudah tua.

Ternyata, yang punya rumah adalah orang yang memiliki usaha berjualan susu kambing. Pada hari itu ada banyak pesanan sehingga produksinya tidak mencukupi untuk memenuhi banyaknya pesanan karena semua pesanan diterima. 

Karena produksi susunya tidak mencukupi untuk memenuhi pesanan yang banyak, terpikir oleh ibunya untuk menambahkan air pada susu. Ketika air akan ditambahkan sang anak perempuab berkata, "Buk, produksi kita itu dasarnya adalah kepercayaan, orang-orang yang memesan kepada kita telah percaya bahwa produksi susu kita berkualitas, kalau sampai malam ini kepercayaan mereka dikhianati lantas bagaimana besok?".

Ibunya berkata, "Nak, satu kali ini saja, mereka tidak akan tahu, besok tidak usah kita ulangi lagi!". Anaknya menjawab, "nggak bisa Buk, karena biasanya kalau sudah tahu enaknya pasti keterusan". Ibunya berkata lagi, "enggak apa-apa Nak, mereka tidak akan tahu".

Kebohongan satu kali akan menyeret kepada kebohongan-kebohongan yang lain. Akan bertambah tidak jujurnya. Begitu orang tahu jalan untuk berkhianat, dia akan ketagihan. Begitu juga korupsi. Bisanya kalau sudah menemukan enaknya akan keterusan. Semua dimulai dari yang pertama. Apabila yang pertama dilakukan, akan ada yang kedua, yang ketiga dan seterusnya. Oleh karena itu, jujur merupakan perkara yang sangat mahal. Apalagi zaman sekarang.

Tiba-tiba anaknya berkata, "Ya sudah Buk, kalau mereka pelanggan-pelanggan Ibu tidak tahu, tapi kalau Sayidina Umar tahu, Ibu dalam bahaya, bisa-bisa Ibu dihukum karena ini". Ibunya berkata lagi, "Tidak mungkin Nak, malam-malam begini Sayidina Umar pasti sudah tidur di istananya". Rupanya anak pedagang susu ini telah mengetahui bahwa Sayidina Umar adalah pemimpin yang adil sampai beliau dijuluki al-Faruq, orang yang benar-benar menjaga antara yang haq dan yang bathil. Bahkan pernah ketika putranya sendiri, Ubaidillah melakukan kesalahan "zina", karena dibujuk oleh orang musrik minum khomr, dan mabuk lalu memperkosa seorang perempuan sampai hamil, dihukum sendiri oleh Sayidina Umar sampai berakibat kematian pada putranya. Salah satu ciri pemimpin yang adil adalah apabila hukum ditegakan dengan sempurna dan tatanan negara menjadi tentram.

Tiba-tiba anaknya berkata, "Buk, kalau Sayidina Umar tidak tahu karena tidur, tapi Allah tidak tidur, Allah maha tahu  Buk, Itaqillah Buk". Kemudian Sayidina Umar kembali ke istana dan menawarkan kepada putra-putranya, siapa yang mau dinikahkan dengan perempuan anak dari pedagang susu. Ada satu putra Sayidina Umar yang mau, ditanya oleh Sayidina Umar, "Kalau tidak cantik tidak apa-apa?". Putranya menjawab, "Tidak apa-apa". Pertanyaan ini dilontarkan karena Sayidina Umar belum tahu wajahnya, hanya mendengar suaranya dan mengetahui ketakwaannya.

Paginya perempuan pedagang susu dan anaknya didatangi kholifah, dan anaknya diambil menantu. Dari rahim perempuan anak pedagang susu ini, lahir orang besar yang bernasab cucu yang bernama Umar bin Abdul Aziz, ini karena  neneknya adalah perempuan yang jujur, wirai, zuhud, dan bertakwa kepada Allah.

Sekelas Sayidna Umar, seorang Khalifah yang mampu menaklukan Romawi, Eropa dan Persia, sampai raja-raja tidak percaya bahwa yang dia lihat adalah Khalifah Umar saking sederhananya. Dengan kekuasaan yang begitu besar, Beliau mencari mantu yang tidak glamor, dan nasabnya tinggi, yang beliau cari adalah menantu yang :

إن أكرمكم عند الله أتقاكم

Harusnya mencari istri juga seperti itu, tidak nasabnya, harta dan kecantikannya semata-mata, tapi juga ketakwaanya.

2. Haknya Hamba Terhadap Dirinya Sendiri

واتبع السيئة الحسنة تمحها

Susulah perbuatan buruk dengan perbuatan baik, niscaya kebaikan akan mengalahkan keburukan. Manusia selain Nabi, tidak ada yang tidak pernah melakukan kesalahan. Hanya nabi saja yang maksum, para wali juga tidak maksum tapi mahfud. Pengertian Maksum adalah tidak pernah melakukan dosa, tidak dimulai ketika menjadi nabi, bahkan mulai bayi, para nabi telah maksum.

Contoh terdekat bahwa para nabi maksum adalah Nabi Muhammad yang lahir pada zaman Kafir Jahiliyah dengan sesembahan berhalanya sebanyak 360 patung mengelilingi Ka'bah. Sebelum beliau menjadi Nabi dengan datangnya Jibril dan wahyu, beliau tidak pernah menybah berhala. Padahal menurut analisa sosial seharusnya beliau ikut menyembah berhala. Oleh karena itu setiap Ramadan Nabi memiliki kebiasaan uzlah (menyendiri) di Gua Hira.

Pada saat itu beliau belum diangkat menjadi rasul, uzlahnya nabi tidak menjauh dari Ka'bah tapi mendekat dengan Ka'bah, karena Gua Hira yang dibuat uzlah nabi merupakan lobang kecil di atas bukit bebatuan vertikal yang apabila melihat ke bawah lurus, langsung terlihat Ka'bah. Kita bisa bayangkan bagaimana susah payahnya Sayidah Khadijah berjuang setiap hari mengantarkan makanan dengan mendaki gunung babatuan yang vertikal ke gua hira. Padahal Sayidah Khadijah adalah orang kaya yang memiliki banyak budak, untuk berbakti kepada suami beliau yang berusia 50 tahun ke atas, tidak menyerahkan urusannya kepada budak. Begitulah pengabdian beliau sehingga tidak bisa dibandingkan dengan siapapun, sampai Allah hanya menakdirkan keturunan Nabi Muhammad hanya dari rahim Sayidah Khadijah. Tahun sepeninggal Sayidah Khadijah Nabi menyebutnya sebagai "Ammul Khuzni" (tahun kesedihan). Ketika nabi telah memiliki banyak istri beliau masih kangen dengan Sayidah Khadijah sampai Sayidah Aisyah cemburu.

Contoh para nabi maksum yang ekstrem   seperti Nabi Musa yang dibesarkan oleh Firaun, tapi Nabi Musa steril dari Firaun, walaupun kanan-kirinya adalah kemungkaran. Sampai ketika beliau masih kecil akan minum arak, tangannya diarahkan oleh Malaikat Jibril mengambil bara api. Ini juga karena Nabi Musa maksum, nah selain nabi tidak ada yang maksum.

Oleh karena itu, selain nabi pasti memiliki kesalahan, tapi selain kesalahan dapat menjadikan seseorang menjadi hina, tapi terkadang juga bisa mengangkat derajat manusia. Sekelas Sunan Kalijaga masa lalunya adalah seorang perampok, sekelas Dzinun Al Misri juga seorang perampok, tapi orang mukmin seharusnya menjadikan kesalahan sebagai wasilah batu loncatan mendekat kepada Allah. Oleh karena itu, Ibnu Athoillah al-Syakandari berkata :

"Kemaksiatan yang menjadikan seorang merasa hina dan butuh kepada Allah, lebih baik daripada ketaatan, yang menjadikan seorang hamba menjadi takabur".

Jadi, terkadang masalah menjadi berkah, oleh karena itu, pandangan ulama ahli sunah wal jamaah yang memiliki kedalaman ilmu tidak mudah untuk  berperasangka buruk dan tidak gampang mengkafirkan seseorang.

Mbah Yai Maimun Zubair, pernah disowani oleh santrinya yang mengekuh karena di desanya banyak anak muda yang nakal. Karena ketika dia merasa ketika nyantri pernah mendalami ilmu kanuragan, kemudian dia matur, "Mbah Yai, bagaimana kalau anak-anak muda itu saya obrak-abrik, insyaAllah saya sanggup!". Mbah Yai Maimon Zubair dawuh, "Ojo!, kamu buatlah pengajian, diantara mereka yang mau mengaji terimalah, kalau bapaknya tidak mau, mungkin anaknya yang mau mengaji". Inilah, thoriqah perjuangan kiai-kiai sepuh. Ini seperti ketika Nabi dilempari batu di Thoif, Malaikat menawarkan untuk menghancurkan Thoif, tapi Nabi menolak dan berkata, "Jangan, mungkin dari sulbi mereka akan keluar dzuriyah yang bersaksi tiada tuhan selain Allah dan atas kerasulanku".

Begitulah cara dakwah nabi dan para kiai yang jangka panjang dan berorientasi pada masa depan, karena apabila nahi mungkar dilakukan dengan cara yang mungkar hanya akan menghasilkan dendam dan kemarahan, dan itu tidak akan selesai. Selain itu Ulama sepuh paham bahwa seseorang yang tidak baik sekarang, belum tentu tidak baik di masa depan. Bahkan bisa lebih baik dari yang biasa-biasa saja. Kenyataannya banyak para wali yang masa lalunya adalah penjahat. Syaratnya adalah :
واتبع السيئة الحسنة تمحها

Caranya adalah dengan bertaubat kepada Allah, syaratnya (1) meminta ampun kepada Allah, (2) menghentikan kemaksiatan yang dilakukan, (3) bertekad menghentikan kemaksiatan dimasa yang akan datang. Apabila hubungannya dengan hak adami maka ditambah (4) menyelesaikan hak adaminya, dengan meminta maaf,  atau  minta halal, apabila tidak dihalalkan harus mengembalikan apabila berupa harta.

Nah, untuk tahu taubatnya diterima, biasanya yang dilakukan adalah perkara yang baik-baik karena ingin menutupi keburukannya. Malah yang baik adalah anatara khasanahnya (kebaikannya) equal (seimbang/ sejenis)'dengan Sayiahnya (keburukannya). Contohnya apabila dulu sering meninggalkan shalat, maka harus diaadla semanpunya, selalin diqadla semampunya juga diperbanyak melakukan shalat sunah. Apabila dulu sering tidak puasa, diqadla dan ditutup dengan puasa sunah. Atau dulu semasa mudanya suka mencuri ote-ote, makan tiga bayar satu, caranya bagaimana untuk membayar?. Tidak usah dibayar tapi shaqahlah yang banyak karena :
واتبع السيئة الحسنة تمحها

Equal itu seimbang, kalau mencuri ya jangan diganti dengan shalat, yang equal ya dengan shadaqah. Kalau dulu suka mengganggu orang harusnya setelah bertaubat adalah berbuat baik kepada sesama.

3. Bergaul dengan Orang Laing dengan Akhlaq yang Baik

وخالق الناس بخلق حسن

Nabi berhasil di dalam berdakwah, kuncinya adalah akhlaq. Oleh karena itu nabi juga bersabda :

إنما بعثت لأتمم مكارم الأخلاق

Sekarang akhlaq menjadi hal yang mahal dan langka. Seharusnya Akhlaq menjadi prioritas dan bukan ilmu. Meskipun Ilmu memiliki banyak keutamaan, tapi menjadi tidak sempurna tanpa akhlaq. Pertanyaannya lebih utama mana ilmu dengan akhlaq?.

Sejatinya akhlaq lebih diutamakan daripada ilmu, bahkan, perintah nabi saja, para sahabat lebih mengutamkan akhlaq. Ada beberapa contoh, nabi pernah memerintahkan kepada para sahabat agar beliau jangan dihormati selayaknya raja dengan berdiri ketika beliau datang, tapi begitu pada suatu ketika nabi datang, para sahabat tetap berdiri, dan perintah nabi dilanggar karena para sahabat mengutamakan akhlaq.

Seorang Abu Bakar malah berani melanggar perintah nabi, demi untuk berakhlaq kepada nabi. Ceritanya, ketika nabi sakit, nabi memerintahkan Sayidina Abu Bakar menjadi imam salat. Di tengah-tengah Sayidina Abu Bakar menjadi imam, nabi datang dipapah Sayidina Ali untuk ikut shalat jamaah. Sepanjang hidup nabi, tidak pernah meninggalkan shalat jamaah di masjid kecuali ketika sakit menjelang kewafatan beliau.

Ketika Abu Bakar tahu Nabi datang dan akan menjadi makmum, Sayidina Abu Bakar bersiap untuk mundur dari pengimaman, nabi dawuh, "Teruskan, jangan mundur kamu yang jadi imam". Sudah diperintah oleh nabi untuk meneruskan tapi Sayidina Abu Bakar tetap mundur. Inilah contoh akhlaq, beliau mendahulukan akhlaq daripada perintah.

Keberhasilan nabi dalam berdakwah  karena akhlaqnya juga dibuktikan dengan cerita semasa hidup beliau yang setiap hari menyuapi makan bubur dengan suapan yang halus kepada seorang pengemis buta non muslim. Walaupun pengemis buta tersebut, selalu mengumpat tentang nabi, nabi tidak marah, justru setiap hari  tetap dilayani dengan halus, setelah nabi wafat, kebiasaan ini diteruskan oleh Sayidina Abu Bakar, pengemis buta non muslim marah karena cara menyuapi Abu Bakar yang terlalu kasar. Padahal yang menyuapinya adalah orang yang setiap hari diumpat.

Oleh karena itu banyak sekali keterangan yang mengunggulkan akhlaq dibandingkan ilmu. Bahkan amal saleh pun lebih utama akhlaq. Tapi sekarang akhlaq menjadi hal yang langka dan mahal. Abdurahman Ibnu Qasim Ibnu Khalid al-Utaqi al-Misri, murid dari Imam Malik berkata, "Aku pernah nyantri kepada Imam Malik 20 tahun, selama 2 tahun aku diajarkan ilmu, dan selama 18 tahun, aku diajari tentang adab/ akhlaq". Yang seperti itu saja, ketika beliau boyong, beliau masih menyesal kenapa tidak seluruh waktunya dijadikan untuk belajar adab. Sampai beliau mengungkapkan, "Andaikan waktu 20 tahun seluruhnya dipakai untuk belajar adab saya lebih puas".  Di dalam Alquran dijelaskan :

هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا مِن قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ

Yang pertama Allah memerintahkan para nabinya untuk :
1. Membacakan ayat-ayat Allah
2. Mengajarkan tentang akhlaq
3. Mengajarkan Ilmu dan hikmah

Oleh karena itu, kiai-kiai sepuh apabila mendidik putra-putranya tidak begitu disibukan dengan edukasi anak-anaknya di bidang pengetahuan. Yang pertama ditanamkan oleh para kiai justru adalah akhlaq. Sangat beruntung bagi orang tua yang memiliki kesempatan mengajarkan anak-anaknya untuk berbahasa Jawa karena dalam bahasa Jawa mengandung etika yang tinggi. Di dalam bahasa Jawa juga terdapat strata atau tingkatan bahasa. Bukan berarti yang tidak berbahasa Jawa tidak memiliki etika, tapi mengajarkan bahasa Jawa lebih mudah jika anaknya bisa berbahasa jawa kromo.

Di Lirboyo ada Kiai Idris Marzuqi yang selalu menyerukan kepada santri-santri menjelang pulang untuk berdialog dengan orang tua dengan menggunakan bahasa kromo inggil. Orang kalau selalu menggunakan kromo inggil susah untuk marah. Ada taman saya (KH. Mohammad Idris Djamaluddin) yang punya sifat pemarah seperti sifat bapak dan mbahnya, untungnya mereka sejak kecil diajari untuk berbahasa jawa kromo inggil sehingga ketika saling marah menjadi tidak pantas.

Akhlaq juga sangat ditekankan oleh Abbah (Kiai Mohammad Djamaluddin Ahmad) kepada saya. Beliau tidak begitu memusingkan tentang nilai akademis tapi yang didahulukan adalah akhlaq. Pernah ketika saya masih mondok, saya hampir saja tidak naik kelas istilahnya naik tapi mualaq (gantungan). Abah bertanya, "Mualaq iku opo Le?". Saya jawab, "Mualaq niku nggeh naik kelas tapi gantungan, nanti dalam satu semester di evaluasi bisa tetap naik atau turun kembali". Abah berkata, "Owalah Le, tidak naik sekalian tidak apa-apa, biar tambah hapal!". Beliau tidak marah atau duko padahal saya hampir saja tidaj naik kelas.

Berbeda, apabila menyangkut akhlaq,  Abbah mewajibkan saya, apabila pulang untuk sowan kiai, walaupun di pondok saya, pulang dengan sowan Kiai itu bukanlah suatu tradisi. Nah, caranya biar mudah izin kiai ya pada saat kiai setelah shalat jamaah, kemudian izin. Kiai Idris Marzuqi Lirboyo itu kalau dengan santrinya "boso" dengan kromo inggil, selain itu intonasi yang beliau gunakan lebih lirih, prinsip beliau adalah bukan kamu yang butuh aku, tapi aku yang butuh kamu, karena apabila tidak kamu semua, aku tidak bisa mengamalkan ilmu, sehingga sifat beliau adalah "melayani" bukan "dilayani".

Nah, suatu ketika saya pulang tidak sowan kiai, biasanya Abbah tidak pernah tanya ketika saya pamit kiai, lah ketika pas tidak pamit Abah kok ditanya. Saya turun dari becak, Abbah keluar dari kelas Mualimin, kemudian sungkem. Beliau bertanya, "Pulang?". Saya jawab, "enggeh". Abah tanya lagi, "Ono opo?". Saya jawab, "Kangeen". Lalu beliau berlalu dengan membawa kitab akan masuk ndalem. Sebelum masuk ndalem, sejurus kemudian beliau membalikkan badan, dan bertanya kepada saya, "Heh, sik, sik, tak takoki, sowan kiai ta ta ora?". (Biasanya nggak pernah bertanya kok tiba-tiba bertanya, dan pas ketika saya tidak sowan). Lalu saya jawab, "Mboten Abbah".  Abbah dawuh, "Piye kok gak sowan Kiai, Suuuuf, Yusuuuuf, iki Idris terno neng pondok sowano Kiaine". (memanggil santri asal Gresik namanya Yusuf Ali), padahal pada saat itu saya belum masuk rumah. Abah dawuh, "sudah enggak usah menemui ibuk dulu, pulang ke kediri (lirboyo) dulu". Di tengah jalan saya nelangsa menangis karena seperti anak yang dibuang, tapi kemudian saya sadar ya begitulah menanamkan akhlaq kepada anak. Kalau soal prestasi beliau tidak begitu memikirkan tapi kalau soal akhlaq, saya langsung disuruh kembali, langsung diperintah untuk sowan, saat itu juga diantar oleh ketua pondok saat itu. Ternyata akhlaq lah yang lebih penting daripada ilmu. Jika orang memegangi akhlaq, sedikit ilmu akan menjalar menjadi banyak. Mari sekarang untuk memprioritaskan akhlaq sebagai tujuan pendidikan.

Dulu saya ketika di pondok juga berpuasa, suatu ketika puasa dan disambang oleh Abbah. Kemudian diajak sowan kira-kira jam 17.00 sudah hampir buka. Lalu disuguhi oleh Kiai tidak saya minum karena puasa. Ketika kiai masuk ke dalam, Abbah bertanya, "kok tidak diminum?". Abbah dawuh, "Pahalamu minum ini, lebih besar daripada kamu meneruskan puasamu, diaturi Kiai kok tidak diminum untuk membahagiakan hati kiai, puasamu belum tentu diganjar oleh Allah". Langsung saya minum, rasanya pahit, karena tinggal satu jam. Ini namanya akhlaq terkadang lebih baik dari amal shaleh.

Inilah pelajaran akhkaq yang mulai langka. Sampai di wisuda IAIBAFA Abbah  bercerita pernah suatu ketika Nabi Yusuf tidak tatakrama dengan Nabi Ya'qub bapaknya, jadi ketika Nabi Ya'qub datang, Nabi Yusuf tidak berdiri menyambut kedatangan sang bapak.Akhirnya Allah tidak menjadikan keturunan Nabi Yusuf sebagai Nabi. Hanya karena satu kesalahan tidak adab terhadap orang tua. Semoga kita dapat menjaga adab dan akhlaq. Amin (*)

*Disarikan dari ngaji malam selasa oleh KH. Mohammad Idris Djamaluddin

Selasa, 12 Februari 2019

Ngaji rabu 12.02.19

ويقيمون الصلاة ومما رزقنا هم ينفقون
اقامة الصلاة
Mengerjakan sholat :
Hanya Pernah... hususnya ied
Sering...tapi gang tek
Terus..tapi telat
Selalu..tapi sebatas terpaksa..kewajiban..
Selalu..dan menjadi kebutuhan....
Selalu dan belum puas dengan pencapaian...masih belajar untuk berbenah... untuk lebih sempurna...rukun syarat... khusyuk...dll

Infaq..artian zakat...
Harta kita ada hak faqir miskin ( kotoran) yang harus di keluarkan. Jika tidak akan jadi penyakit

Jika sudah..di tingkatkan pada level sedekah....
Menghindarkan bala'

Jika tidak di keluarkan..kadang akan di paksa... dan lebih besar kapasitasnya.

Di alquran sering bebarengan antara kata sholat dan zakat... satu hablum minannas..satu hablun minallah...harus seimbang...
.
Cerita seorang ulama... berangkat haji...  bertemu ibuk2 makan bangkai ...akhirnya memberikan bekal hajinya pada si miskin.

Usaha seimbang..solih spiritual..dan solih sosial...

Selasa, 05 Februari 2019

Silsilah Sanad Al Quran

Allah subhanahu wa ta'ala
Jibril
Rasulullah Muhammad
Ubay bin Ka'ab
Utsman bin 'Affan
Abdullah Abdurrahmaan Assalamy
'Ashim bin Abi Annajud
Hafsh bin Sulaiman
Ubaid bin Al-shobbah
Ahmad bin Sahl Abi al-abbas Al Asynany
Abul Hasan Thahir Alhalaby
Abu 'Amr Utsman Addany
Abu Dawud Sulaiman bin Annajah
Alhusain Alqodli bin Abul Ahwash
Abul Hasan 'Ali bin 'Umar
Abu Ja'far Ahmad bin Yusuf
Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad
Muhammad bin Aljazary
Ahmad Almasyry
Muhammad bin Ja'far
Nashiruddin Aththobalawy
Asysyeh Syachadzah Alyamany
Abdul Haq Assanbathy
Abdurrahman Alyamany
Muhammad Albaqry
Asysyeh Aly Arramky
Asysyeh Isma'il
Syekh Abdulkarim wa Syekh Ali Almihy
Syekh Ahmad bin Umar
Syekh ABDURRAHMAN Asysyafi'iy
Syekh Ahmad bin Abdurrahman
Syeh Hasan Al'awadil
Syekh Al Asqaathy
Al Imam Muhammad Alhimshon
Syekh Muhammad Thall
Syekh Abduh Alghowwal
Syekh Abduh Annaqqas
Syekh Luth Ayyub
Alimam Syekh Abdullah Luth
Alimam Muhammad bin Al 'izz Addimyathy
Alimam Ahmad Alharuuny
Syekh Sa'ad 'Antar
Syekh Yusuf Addimyathy
Syeh Muhammad Munawwir
Syekh Muhammad Arwany

Minggu, 27 Januari 2019

Cerita Nuaiman konyol

KISAH LAWAKAN SAHABAT NU'AIMAN & SENYUM 'SANTAI' RASULULLAH ﷺ

Adalah Nu’aiman bin Amr Al-Anshary seorang sahabat Rasulullah ﷺ yang terkenal suka melawak dan jail. Ia adalah sahabat dari kalangan Anshar. Meski wataknya yang suka melucu, Nu’aiman juga seorang mujahid sejati Islam. Ia merupakan Ashabul Badr karena ikut terlibat dalam Perang Badar bersama Rasulullah ﷺ dan para sahabat yang lainnya.

Namanya memang  tidak setenar Nasruddin Hoja atau Abu Nawas, namun gaya bercanda Nu’aiman banyak membuat lelucon atau tingkah konyol -bahkan kejahilan- hingga membuat Rasulullah ﷺ dan para sahabat lainnya tidak kuat menahan tawa. Yang menjadi target kejahilannya tidak hanya sahabat, tapi juga Rasulullah ﷺ.

Lantas bagaimana sikap Rasulullah ﷺ terhadap sahabatnya yang suka melawak -bahkan jahil- seperti Nu’aiman tersebut? Apakah Rasulullah ﷺ pernah marah dengan sikap usil Nu’aiman? Ataukah Rasulullah ﷺ menganggapnya biasa saja? Lalu bagaimana kalau ada sahabat yang tersinggung dengan keusilan Nu’aiman, bagaimana Rasulullah ﷺ ‘meredam’ hal itu?

Dari beberapa kisah tentang Nu’aiman ini, kita bisa menarik kesimpulan tentang sikap Rasulullah ﷺ terhadap Nu’aiman.

Pertama, Memakluminya.
Pada umumnya Rasulullah ﷺ dan para sahabat maklum tentang karakter Nu’aiman yang suka melucu. Rasulullah ﷺ juga biasa saja ketika menjadi sasaran kejahilan Nu’aiman dalam membuat lelucon. Selama tingkah polah Nu’aiman tidak melanggar ajaran agama Islam, mungkin selama itu pula akan dimaklumi.

Kedua, Melarang sahabat lain mencela Nu’aiman.
Tidak semua orang suka dan maklum dengan tingkah Nu’aiman yang jahil dan usil seperti itu. Pasti ada saja pihak-pihak yang jengkel dan tidak suka dengan tingkah laku Nu’aiman. Terkait hal ini, Rasulullah ﷺ sudah memberikan rambu-rambu. Rasulullah ﷺ melarang para sahabatnya untuk mencela Nu’aiman,

"لا تفعل فإنه يحب الله ورسوله"

“Jangan lakukan itu (mencela Nu’aiman) karena dia mencintai Allah dan Rasul-Nya.”

Berikut adalah diantara kisah-kisah Nu’aiman :

Kisah Pertama, Nu’aiman mengerjai Makhrumah dan Sayyiduna Utsman.
Alkisah, ada seorang kakek bernama Makhrumah bin Naufal telah mencapai usia 115 tahun, dimana matanya tidak dapat melihat. Suatu hari dia berdiri di salah satu sudut masjid dan hendak kencing, para sahabat terkejut dan berteriak, “Masjiid..! Masjiiiid...!"

Nu’aiman bin ‘Amr lalu menuntunnya dengan tangannya, kemudian ia membungkuk dengan membawa orang itu di bagian lain dari masjid.
Setelah itu Nu’aiman berkata kepadanya, “Kencinglah disini,” Nu'aiman lalu bergegas pergi... Makhrumah bin Naufal bersiap untuk buang air, para sahabat yang melihat Makhrumah hendak kencing, dimana posisinya masih didalam masjid berteriak lagi Masjiiid..! Masjiiid...!

Makhrumah terkejut dan berkata, “Celaka! Siapakah yang membawaku ke tempat ini?” Para sahabat menjawab, “Nu’aiman.” Makhrumah berkata, “Sungguh jika aku beruntung aku akan memukulnya dengan tongkatku!”

Maka berita itu sampai pada Nu’aiman, lalu Nu’aiman menunggu beberapa hari, kemudian datang kepada Makhrumah di masjid, dan berkata kepada Makhrumah dengan suara yang diubah, “Apakah kamu menginginkan Nu’aiman? “
Makhrumah menjawab, “Ya,” maka Nu’aiman menuntunnya sehingga berhenti di belakang khalifah Utsman bin Affan (yang sedang shalat), lalu Nu’aiman berkata. “Di depanmu itu Nu’aiman.”
Maka Makhrumah memukulkan tongkat itu kepada Utsman sehingga Sayyiduna Utsman pingsan... sementara Nu’aiman melarikan diri...

Kisah kedua, Nu'aiman menghadiahi Rasulullah ﷺ Madu.
Diceritakan bahwa suatu hari Nu’aiman ingin menghadiahi Rasulullah ﷺ seguci madu. Namun karena ia tidak memiliki uang, maka akhirnya Nu’aiman menyuruh penjual madu untuk menghantarkan madunya kepada Rasulullah ﷺ, sebagai hadiah kepada Rasulullah ﷺ.

“Nanti kamu minta juga uang harganya,” kata Nu’aiman kepada penjual madu.

Saat bertemu Rasulullah ﷺ, penjual madu tersebut mengatakan sebagaimana yang diminta Nu’aiman. Rasulullah ﷺ memberikan sejumlah uang kepada penjual madu itu. Jadilah Rasulullah ﷺ mendapatkan hadiah madu, sekaligus tagihan harganya.
Setelah kejadian itu, Rasulullah ﷺ memanggil Nu’aiman. Beliau menanyakan mengapa Nu’aiman melakukan hal itu.

“Saya ingin berbuat baik kepada Anda ya Rasulullah ﷺ, tapi saya tidak punya apa-apa,” jawab Nu’aiman sehingga membuat Rasulullah ﷺ tersenyum.

Kisah ketiga, Nabi ﷺ mengganti kerugian akibat kejahilan Nu’aiman.
Tidak hanya memaklumi Nu’aiman, bahkan Rasulullah ﷺ mengganti kerugian akibat kejahilan yang dilakukan sahabatnya itu. Selain cerita di atas, ada satu kejadian yang membuat Rasulullah ﷺ mengganti apa yang telah diperbuat Nu’aiman. Meski demikian, Rasulullah ﷺ tidak marah. Bahkan beliau tersenyum karena apa yang dilakukan Nu’aiman memang ‘menggelitik.’
Ceritanya, suatu ketika para sahabat berkata kepada Nu’aiman bahwa sudah lama tidak makan daging unta. Mereka lantas memiliki ide untuk menyembelih unta seseorang yang tengah bertamu kepada Rasulullah ﷺ. Nu’aiman langsung saja menyambut ide tersebut. Unta tamu Rasulullah ﷺ tersebut akhirnya jadi disembelih Nu’aiman.
Tamu Rasulullah ﷺ yang mengetahui untanya disembelih tersebut langsung mengadu kepada Rasulullah ﷺ. Setelah ditanya, para sahabat yang memiliki ide makan daging unta tersebut menjawab bahwa yang melakukan itu adalah Nu’aiman. Salah seorang dari mereka lalu menunjukkan kepada Rasulullah ﷺ dan tamunya tempat persembunyian Nu’aiman. Saat ditanya Rasulullah ﷺ mengapa melakukan itu, jawaban Nu’aiman malah membuat Rasulullah ﷺ tersenyum.
“Tanyakan saja kepada orang yang menunjukkan kepadamu tempat persembunyianku,” jawab Nu’aiman. Rasulullah ﷺ lalu memberikan ganti rugi kepada pemilik unta tersebut dengan jumlah yang lebih dari pada cukup.

Kisah keempat, Nu’aiman dikabarkan sakit mata, dan Nabi pun ﷺ menengoknya.
Namun apa yang terjadi saat Nabi ﷺ menjenguknya? Ternyata Nu’aiman sedang asyik makan kurma. “Apa boleh makan kurma, matamu kan sedang sakit?” tanya Nabi ﷺ. Dengan santai Nu’aiman menjawab, “Saya mengunyah dari arah mata yang tidak sakit, Nabi.” Konon, jawaban tersebut membuat Nabi ﷺ tertawa sampai terlihat gigi gerahamnya.

Kisah kelima, Saat Nu’aiman berangkat bersama Abu Bakar ke Bashrah untuk berniaga.
Bersama mereka ikut pula Suwaibith, yang bertugas membawa perbekalan. Nu’aiman meminta kepada Suwaibith agar diberi makanan, tapi ditolaknya karena bos mereka sedang tidak di tempat. “Tunggulah sampai Abu Bakar datang,” katanya. Nu’aiman jengkel, lalu mengeluarkan ‘ancaman’, “Tunggu pembalasanku!”

Nu’aiman lantas menemui beberapa orang, menawarkan budaknya dengan harga sangat murah, sambil membocorkan kelemahannya, yaitu budaknya sering mengaku dirinya seorang merdeka. Yang ditawari setuju, lalu bersama Nu’aiman mereka menuju ke tempat Suwaibith duduk. Nu’aiman menunjuk kepadanya. Tentu saja Suwaibith berontak sambil mengatakan dirinya bukan budak. Tapi si pembeli berkeras mengikatnya dan berkata, “Kami sudah paham sifatmu.” Untung Abu Bakar segera datang dan urusan jadi gamblang.
Ketika peristiwa tersebut diceritakan kepada Nabi ﷺ, beliau tertawa, bahkan sepanjang tahun setiap beliau ingat atau diingatkan. Nu’aiman adalah pembawa kegembiraan. Mungkin karena itu, Nabi ﷺ pernah berkata,

"يدخل الجنة وهو يضحك"

“Nu’aiman akan masuk surga sambil tertawa, karena ia sering membuatku tertawa.”

S a h a b a t . . .
Cerita-cerita tentang Nu’aiman diatas menyegarkan ingatan kita bahwa Nabi ﷺ adalah pribadi yang ceria, suka tertawa, bercanda, dan tidak melulu bersikap resmi. Beliau biasa bersenda gurau dengan para sahabat dan istri-istrinya. Sayangnya, riwayat-riwayat tentang sisi manusiawi yang humoris ini jarang diedarkan. Nabi ﷺ dihadirkan sebagai sosok yang lurus, kaku, dan hanya suka memberikan perintah atau gemar melarang-larang saja.
Minimnya cerita semacam itu barangkali ikut bertangung jawab atas meruyaknya sikap keberagamaan yang rigid. Sebagai umat Nabi ﷺ, kita berhasrat meneladaninya secara penuh. Kita meninggalkan sesuatu yang dibenci Nabi ﷺ dan berusaha menyukai apa saja yang Beliau ﷺ senangi. Apa saja, mulai warna pakaian, jenis makanan, cara makan, cara berobat, berjalan, sampai posisi tidur. Tapi kita sering melupakan sikap lapang dada dan humorisnya. Jadilah kita sedikit-sedikit merasa dihina, dilecehkan, lalu murka dan teriak-teriak. Padahal jika Nabi ﷺ bersikap demikian, tentulah seorang Nu’aiman akan segan bertingkah konyol kepada beliau ﷺ.

Semoga kisah-kisah ini menjadi "jobb segarr" dan bermanfaat untuk kita semua...

#AAMIIN...
#SHALLÛALANNABIMUHAMMAD...

اللَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ نُورِكَ السَّارِي وَمَدَدِكَ الجَارِي واجْمَعْنِي بِهِ فِي كُلِّ أَطْوَارِي وَعَلىَ آلِهِ وصَحْبِهِ يَانُورْ

📚 Sumber :
- Ihyã' 'Ulumuddîn, Kitãbu Ãfãtil Lisãn-bab An-Nahyu 'Anil Li'ãn, juz 3 hal. 121.
- Al-Sirah Al-Halabiyyah juz 2 hal. 375.
- Al-Istî'ãb Fî Ma'rifatil 'Ashhãb juz 1 hal. 848.
- Al-Wãfî Bil Wãfiyãt juz 7 hal. 346.
- Al-Ishãbah juz 5 cetakan Dãr Al-Fikri
- Ibn Sa'd Fî Ath-Thabaqãt juz 3 hal. 494.

Ijazah terhindar zina

"Mumpung anak masih kecil, jangan sampai salah seperti saya ya.
Anak pertama usia 22 thn hafal 18 juz.
Anak kedua dan ketiga semua hafidz dan hafidzah.
Tuntas 30 juz.
Tapi ...
saya sedih karena untuk sholat saja mereka masih diingatkan dan disuruh. Saya menangis saat saya baru sadar bahwa ada yg terlewat kala itu.

***
Fitrah keimanan (dibahas saat workshop) yg harusnya ditanam di 7 tahun pertama hidupnya ternyata lupa saya kawal lebih ketat dan belum tuntas. Dan sekarang kami harus "restart" dari awal untuk mengulang proses yg terlewat".
Hmm,,, Jazakumullah khairan katsira nasehat berharganya pak,
Satu hal lagi yg saya dapat saat mengikuti worshop home education based fitrah and tallent di semarang bbrp waktu lalu bersama ust harry.
Didiklah anak sesuai fitrah.
Fitrah apa?
Ada bbrp fitrah.
Diantaranya fitrah iman, fitrah belajar, fitrah bakat dan fitrah seksualitas.
Fitrah seksualitas?
Wow, , ,
gimana itu?

***
Mendidik anak sesuai fitrah seksualitas artinya mengenalkan anak bagaimana bersikap, berpikir, dan merasa seperti gendernya.
Jika ia anak perempuan, maka kita bangkitkan fitrah seksulitasnya sbg perempuan.
Jika ia laki2, maka kita bangunkan fitrah seksualitasnya sebagai laki2.
Pertanyaan berikutnya yg muncul, bagaimana tekhnis membangkitkan fitrah seksualitas ini ?
Ada beberapa tahap yg perlu kita kawal di tiap fasenya.

***
Usia 0 - 2 tahun
Pada usia ini anak harus dekat dengan bundanya.
Pendidikan tauhid pertama adalah menyusui anak sampai 2 tahun.
Menyusui, bukan memberi asi.
Langsung disusui tanpa pumping dan tanpa disambi pegang hp.

***
Usia 3 - 6 tahun
Pada usia ini anak harus dekat dengan kedua orang tuanya.
Dekat dengan bundanya, juga dekat dengan ayahnya.
Perbanyak aktivitas bersama.

***
Usia 7 - 10 tahun
Pada usia ini dekatkan anak sesuai gendernya.
Jika anak laki2, maka dekatkan dengan ayahnya.
Ajak anak beraktifitas yg menonjolkan sisi ke-maskulin-annya.
Nyuci motor, akrab dg alat2 pertukangan, dsb.
Jika anak perempuan , maka dekatkan dengan bundanya.
Libatkan anak dalam aktifitas yg menonjolkan ke-feminin-annya.
Stop katering dan banyak utak atik di dapur bersama anak, melibatkan saat bersih2 rumah, menjahit dsb.

***
Usia 11 - 14 tahun
Usia ini sudah masuk tahap pre aqil baligh akhir dan pada usia ini mulailah switch/menukar kedekatan.
Lintas gender.
Jika anak laki2, maka dekatkan pada bundanya.
Jika anak perempuan, maka dekatkan pada ayahnya.

*
Ada sebuah riset yg menunjukkan jika seorang anak perempuan tidak dekat dengan ayahnya pada fase ini maka data menunjukkan anak tsb 6x lebih rentan akan ditiduri oleh laki2 lain.
Di sebuah artikel parenting, dulu saya juga menemukan hal senada.

Jika tdk dekat dg ayahnya, maka anak perempuan akan mudah terpikat dengan laki2 yg menawarkan perhatian dan cinta meski hanya untuk kepuasan dan mengambil keuntungan semata.
Logis juga sih.

Saat ada laki2 yg memuji kecantikannya, mungkin ananda gak gampang silau krn ada ayahnya yg lebih sering memujinya.
Kalau ada laki2 yg memberikan hadiah, ananda tak akan gampang klepek2 krn ada ayahnya yg lbh dulu mencurahkan perhatian dan memberi hadiah.
Pada fase ini jika anak perempuan harus dekat dg ayahnya, maka sebaliknya, anak laki2 harus dekat dengan bundanya.

Efek yg sangat mungkin muncul jika tahap ini terlewat, maka anak laki2 punya potensi lebih besar untuk jadi suami yg kasar, playboy, dan tidak memahami perempuan.
Ada yang tanya, lho kalau ortunya bercerai atau LDR bagaimana?

Hadirkan sosok lain sesuai gender yg dibutuhkan.
Misal saat ia tak punya ayah, maka cari laki2 lain yg bs menjadi sosok ayah pengganti.
Bisa kakek, atau paman.
Sama dengan rasulullah.
Meskipun tak punya ayah dan ibu, tapi rasulullah tak pernah kehilangan sosok ayah dan ibu.
Ada kakek dan pamannya.
Ada nenek, bibi dan ibu susunya.

***
Fase berikutnya setelah 14 thn bagaimana? Sudah tuntas. Krn jumhur ulama sepakat usia 15 thn adalah usia aqil baligh
Artinya anak kita sudah "bukan" anak kita lagi.
Ia telah menjelma menjadi orang lain yg sepadan dengan kita.

Maka fokus dan bersabarlah mendampingi anak2, karna kita hanya punya waktu 14thn saja.
Saling mengingatkan, saling menguatkan, saling mendoakan ya teman2.

Moga allah mampukan dan bisa mempertanggungjawabkan amanah ini kelak di hari penghitungan..
Selamat berkumpul dan merajut cinta bersama keluarga.
Apapun keadaannya, jangan lupa bersyukur dan bahagia.

Semoga bermanfaat
Dapat copas dr teman

Penulis : euis kurniawati

Silahkan kalau mau dishare 😊

Aliza Nasywa

Senin, 10 Desember 2018

BIOGRAFI SINGKAT PARA NABI

BIODATA LENGKAP 25 NABI DAN RASUL

1. ADAM AS.
Nama: Adam As.
Usia: 930 tahun.
Periode sejarah: 5872-4942 SM.
Tempat turunnya di bumi: India, ada yang berpendapat di Jazirah Arab.
Jumlah keturunannya: 40 laki-laki dan perempuan.
Tempat wafat: India, ada yang berpendapat di Mekkah.
Al-Quran menyebutkan namanya sebanyak: 25 kali.

2. IDRIS AS.
Nama: Idris/Akhnukh bin Yarid, nama Ibunya Asyut.
Garis Keturunan: Adam As. ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qinan ⇒ Mihlail ⇒ Yarid ⇒ Idris As.
Usia: 345 tahun di bumi.
Periode sejarah: 4533-4188 SM.
Tempat diutus: Irak Kuno (Babylon, Babilonia) dan Mesir (Memphis).
Tempat wafat: Allah mengangkatnya ke langit dan ke surga.
Al-Quran menyebutkan namanya sebanyak: 2 kali.

3. NUH AS.
Nama: Nuh/Yasykur/Abdul Ghaffar bin Lamak.
Garis Keturunan: Adam As. ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qinan ⇒ Mihlail ⇒ Yarid ⇒ Idris As. ⇒ Matusyalih ⇒ Lamak ⇒ Nuh As.
Usia: 950 tahun.
Periode sejarah: 3993-3043 SM.
Tempat diutus (lokasi): Selatan Irak.
Jumlah keturunannya: 4 putra (Sam, Ham, Yafits dan Kan’an).
Tempat wafat: Mekkah.
Sebutan kaumnya: Kaum Nuh.
Al-Quran menyebutkan namanya sebanyak: 43 kali.

4. HUD AS.
Nama: Hud bin Abdullah.
Garis Keturunan: Adam As. ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qinan ⇒ Mihlail ⇒ Yarid ⇒ Idris As. ⇒ Matusyalih ⇒ Lamak ⇒ Nuh As. ⇒ Sam ⇒ Iram (Aram) ⇒ ‘Aush (‘Uks) ⇒ ‘Ad ⇒ al-Khulud ⇒ Rabah ⇒ Abdullah ⇒ Hud As.
Usia: 130 tahun.
Periode sejarah: 2450-2320 SM.
Tempat diutus: Al-Ahqaf (antara Yaman dan Oman).
Tempat wafat: Bagian Timur Hadhramaut Yaman.
Sebutan kaumnya: Kaum ‘Ad.
Al-Quran menyebutkan namanya sebanyak: 7 kali.

5. SHALIH AS.
Nama: Shalih bin Ubaid.
Garis Keturunan: Adam As. ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qinan ⇒ Mihlail ⇒ Yarid ⇒ Idris As. ⇒ Matusyalih ⇒ Lamak ⇒ Nuh As. ⇒ Sam ⇒ Iram (Aram) ⇒ Amir ⇒ Tsamud ⇒ Hadzir ⇒ Ubaid ⇒ Masah ⇒ Asif ⇒ Ubaid ⇒ Shalih As.
Usia: 70 tahun.
Periode sejarah: 2150-2080 SM.
Tempat diutus: Daerah al-Hijr (Mada’in Shalih, antara Madinah dan Syria).
Tempat wafat: Mekkah.
Sebutan kaumnya: Kaum Tsamud.
Al-Quran menyebutkan namanya sebanyak: 10 kali.

6. IBRAHIM AS.
Nama: Ibrahim bin Tarakh.
Garis Keturunan: Adam As. ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qinan ⇒ Mihlail ⇒ Yarid ⇒ Idris As. ⇒ Matusyalih ⇒ Lamak ⇒ Nuh As. ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyad ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra’u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Tarakh ⇒ Ibrahim As.
Usia: 175 tahun.
Periode sejarah: 1997-1822 SM.
Tempat diutus: Ur, daerah selatan Babylon (Irak).
Jumlah keturunannya: 13 anak (termasuk Nabi Ismail As. dan Nabi Ishaq As.). Tempat wafat: Al-Khalil (Hebron, Palestina/Israel).
Sebutan kaumnya: Bangsa Kaldan.
Al-Quran menyebutkan namanya sebanyak: 69 kali.

7. LUTH AS.
Nama: Luth bin Haran.
Garis Keturunan: Adam As. ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qinan ⇒ Mihlail ⇒ Yarid ⇒ Idris As. ⇒ Matusyalih ⇒ Lamak ⇒ Nuh As. ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyad ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra’u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Tarakh ⇒ Haran ⇒ Luth As.
Usia: 80 tahun.
Periode sejarah: 1950-1870 SM.
Tempat diutus: Sodom dan Amurah (Laut Mati atau Danau Luth).
Jumlah keturunannya: 2 putri (Ratsiya dan Za’rita).
Tempat wafat: Desa Shafrah di Syam (Syria).
Sebutan kaumnya: Kaum Luth.
Al-Quran menyebutkan namanya sebanyak: 27 kali.

8. ISMAIL AS.
Nama: Ismail bin Ibrahim.
Garis Keturunan: Adam As. ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qinan ⇒ Mihlail ⇒ Yarid ⇒ Idris As. ⇒ Matusyalih ⇒ Lamak ⇒ Nuh As. ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyad ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra’u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Tarakh ⇒ Ibrahim As. ⇒ Ismail As.
Usia: 137 tahun.
Periode sejarah: 1911-1774 SM.
Tempat diutus: Mekah.
Jumlah keturunannya: 12 anak.
Tempat wafat: Mekkah.
Sebutan kaumnya: Amaliq dan Kabilah Yaman.
Al-Quran menyebutkan namanya sebanyak: 12 kali.

9. ISHAQ AS.
Nama: Ishaq bin Ibrahim.
Garis Keturunan: Adam As. ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qinan ⇒ Mihlail ⇒ Yarid ⇒ Idris As. ⇒ Matusyalih ⇒ Lamak ⇒ Nuh As. ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyad ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra’u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Tarakh ⇒ Ibrahim As. ⇒ Ishaq As.
Usia: 180 tahun.
Periode sejarah: 1897-1717 SM.
Tempat diutus: Kota al-Khalil (Hebron) di daerah Kan’an (Kana’an).
Jumlah keturunannya: 2 anak (termasuk Nabi Ya’qub As./Israel).
Tempat wafat: Al-Khalil (Hebron).
Sebutan kaumnya: Bangsa Kan’an.
Al-Quran menyebutkan namanya sebanyak: 17 kali.

10. YA’QUB AS.
Nama: Ya’qub/Israel bin Ishaq.
Garis Keturunan: Adam As. ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qinan ⇒ Mihlail ⇒ Yarid ⇒ Idris As. ⇒ Matusyalih ⇒ Lamak ⇒ Nuh As. ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyad ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra’u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Tarakh ⇒ Ibrahim As. ⇒ Ishaq As. ⇒ Ya’qub As.
Usia: 147 tahun.
Periode sejarah: 1837-1690 SM.
Tempat diutus: Syam (Syria).
Jumlah keturunannya: 12 anak laki-laki (Rubin, Simeon, Lewi, Yahuda, Dan, Naftali, Gad, Asyir, Isakhar, Zebulaon, Yusuf dan Benyamin) dan 2 anak perempuan (Dina dan Yathirah).
Tempat wafat: Al-Khalil (Hebron), Palestina.
Sebutan kaumnya: Bangsa Kan’an.
Al-Quran menyebutkan namanya sebanyak: 18 kali.

11. YUSUF AS.
Nama: Yusuf bin Ya’qub.
Garis Keturunan: Adam As. ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qinan ⇒ Mihlail ⇒ Yarid ⇒ Idris As. ⇒ Matusyalih ⇒ Lamak ⇒ Nuh As. ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyad ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra’u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Tarakh ⇒ Ibrahim As. ⇒ Ishaq As. ⇒ Ya’qub As. ⇒ Yusuf As.
Usia: 110 tahun.
Periode sejarah: 1745-1635 SM.
Tempat diutus: Mesir.
Jumlah keturunannya: 3 anak; 2 laki-laki dan 1 perempuan.
Tempat wafat: Nablus.
Sebutan kaumnya: Heksos dan Bani Israel.
Al-Quran menyebutkan namanya sebanyak: 58 kali.

12. AYYUB AS.
Nama: Ayyub bin Amush.
Garis Keturunan: Adam As. ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qinan ⇒ Mihlail ⇒ Yarid ⇒ Idris As. ⇒ Matusyalih ⇒ Lamak ⇒ Nuh As. ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyad ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra’u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Tarakh ⇒ Ibrahim As. ⇒ Ishaq As. ⇒ al-‘Aish ⇒ Rum ⇒ Tawakh ⇒ Amush ⇒ Ayub As.
Usia: 120 tahun.
Periode sejarah: 1540-1420 SM.
Tempat diutus: Dataran Hauran.
Jumlah keturunannya: 26 anak.
Tempat wafat: Dataran Hauran.
Sebutan kaumnya: Bangsa Arami dan Amori, di daerah Syria dan Yordania.
Al-Quran menyebutkan namanya sebanyak: 4 kali.

13. SYU’AIB AS.
Nama: Syu’aib bin Mikail.
Garis Keturunan: Adam As. ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qinan ⇒ Mihlail ⇒ Yarid ⇒ Idris As. ⇒ Matusyalih ⇒ Lamak ⇒ Nuh As. ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyad ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra’u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Tarakh ⇒ Ibrahim As. ⇒ Madyan ⇒ Yasyjur ⇒ Mikail ⇒ Syu’aib As.
Usia: 110 tahun.
Periode sejarah: 1600-1490 SM.
Tempat diutus: Madyan (pesisir Laut Merah di tenggara Gunung Sinai).
Jumlah keturunannya: 2 anak perempuan.
Tempat wafat: Yordania.
Sebutan kaumnya: Madyan dan Ash-habul Aikah.
Al-Quran menyebutkan namanya sebanyak: 11 kali.

14. MUSA AS.
Nama: Musa bin Imran, nama Ibunya Yukabad atau Yuhanaz Bilzal.
Garis Keturunan: Adam As. ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qinan ⇒ Mihlail ⇒ Yarid ⇒ Idris As. ⇒ Matisyalih ⇒ Lamak ⇒ Nuh As. ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyad ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra’u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Tarakh ⇒ Ibrahim As. ⇒ Ishaq As. ⇒ Ya’qub As. ⇒ Lawi ⇒ Azar ⇒ Qahats ⇒ Imran ⇒ Musa As.
Usia: 120 tahun.
Periode sejarah: 1527-1407 SM.
Tempat diutus: Sinai di Mesir.
Jumlah keturunannya: 2 anak, Azir dan Jarsyun, dari istrinya bernama Shafura binti Syu’aib As.
Tempat wafat: Gunung Nebu (Bukit Nabu’) di Jordania (sekarang).
Sebutan kaumnya: Bani Israel dan Fir’aun (gelar raja Mesir).
Al-Quran menyebutkan namanya sebanyak: 136 kali.

15. HARUN AS.
Nama: Harun bin Imran, istrinya bernama Ayariha.
Garis Keturunan: Adam As. ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qinan ⇒ Mihlail ⇒ Yarid ⇒ Idris As. ⇒ Matusyalih ⇒ Lamak ⇒ Nuh As. ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyad ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra’u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Tarakh ⇒ Ibrahim As. ⇒ Ishaq As. ⇒ Ya’qub As. ⇒ Lawi ⇒ Azar ⇒ Qahats ⇒ Imran ⇒ Harun As.
Usia: 123 tahun.
Periode sejarah: 1531-1408 SM.
Tempat diutus: Sinai di Mesir.
Tempat wafat: Gunung Nebu (Bukit Nabu’) di Jordania (sekarang).
Sebutan kaumnya: Bani Israel dan Fir’aun (gelar raja Mesir).
Al-Quran menyebutkan namanya sebanyak: 20 kali.

16. DZULKIFLI AS.
Nama: Dzulkifli/Bisyr/Basyar bin Ayyub.
Garis Keturunan: Adam As. ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qinan ⇒ Mihlail ⇒ Yarid ⇒ Idris As. ⇒ Matusyalih ⇒ Lamak ⇒ Nuh As. ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyad ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra’u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Tarakh ⇒ Ibrahim As. ⇒ Ishaq As. ⇒ al-‘Aish ⇒ Rum ⇒ Tawakh ⇒ Amush ⇒ Ayyub As. ⇒ Dzulkifli As.
Usia: 75 tahun.
Periode sejarah: 1500-1425 SM.
Tempat diutus: Damaskus dan sekitarnya.
Tempat wafat: Damaskus.
Sebutan kaumnya: Bangsa Arami dan Amori (Kaum Rom), Syria dan Yordania.
Al-Quran menyebutkan namanya sebanyak: 2 kali.

17. DAUD AS.
Nama: Daud bin Isya.
Garis Keturunan: Adam As. ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qinan ⇒ Mihlail ⇒ Yarid ⇒ Idris As. ⇒ Matusyalih ⇒ Lamak ⇒ Nuh As. ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyad ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra’u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Tarakh ⇒ Ibrahim As. ⇒ Ishaq As. ⇒ Yahudza ⇒ Farish ⇒ Hashrun ⇒ Aram ⇒ Aminadab ⇒ Hasyun ⇒ Salmun ⇒ Bu’az ⇒ Uwaibid ⇒ Isya ⇒ Daud As.
Usia: 100 tahun.
Periode sejarah: 1063-963 SM.
Tempat diutus: Palestina (dan Israel).
Jumlah keturunannya: 1 anak, Sulaiman As.
Tempat wafat: Baitul Maqdis (Yerusalem).
Sebutan kaumnya: Bani Israel.
Al-Quran menyebutkan namanya sebanyak: 18 kali.

18. SULAIMAN AS.
Nama: Sulaiman bin Daud.
Garis Keturunan: Adam As. ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qinan ⇒ Mihlail ⇒ Yarid ⇒ Idris As. ⇒ Matisyalih ⇒ Lamak ⇒ Nuh As. ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyad ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra’u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Tarakh ⇒ Ibrahim As. ⇒ Ishaq As. ⇒ Yahudza ⇒ Farish ⇒ Hashrun ⇒ Aram ⇒ Aminadab ⇒ Hasyun ⇒ Salmun ⇒ Bu’az ⇒ Uwaibid ⇒ Isya ⇒ Daud As. ⇒ Sulaiman As.
Usia: 66 tahun.
Periode sejarah: 989-923 SM.
Tempat diutus: Palestina (dan Israel).
Jumlah keturunannya: 1 anak, Rahab’an.
Tempat wafat: Baitul Maqdis (Yerusalem).
Sebutan kaumnya: Bani Israel.
Al-Quran menyebutkan namanya sebanyak: 21 kali.

19. ILYAS AS.
Nama: Ilyas bin Yasin.
Garis Keturunan: Adam As. ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qinan ⇒ Mihlail ⇒ Yarid ⇒ Idris As. ⇒ Matusyalih ⇒ Lamak ⇒ Nuh As. ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyad ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra’u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Tarakh ⇒ Ibrahim As. ⇒ Ishaq As. ⇒ Ya’qub As. ⇒ Lawi ⇒ Azar ⇒ Qahats ⇒ Imran ⇒ Harun As. ⇒ Alzar ⇒ Fanhash ⇒ Yasin ⇒ Ilyas As.
Usia: 60 tahun di bumi.
Periode sejarah: 910-850 SM.
Tempat diutus: Ba’labak (Lebanon).
Tempat wafat: Diangkat Allah ke langit.
Sebutan kaumnya: Bangsa Fenisia.
Al-Quran menyebutkan namanya sebanyak: 4 kali.

20. ILYASA’ AS.
Nama: Ilyasa’ bin Akhthub.
Garis Keturunan: Adam As. ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qinan ⇒ Mihlail ⇒ Yarid ⇒ Idris As. ⇒ Matusyalih ⇒ Lamak ⇒ Nuh As. ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyad ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra’u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Tarakh ⇒ Ibrahim As. ⇒ Ishaq As. ⇒ Ya’qub As. ⇒ Yusuf As. ⇒ Ifrayim ⇒ Syutlim ⇒ Akhthub ⇒ Ilyasa’ As.
Usia: 90 tahun.
Periode sejarah: 885-795 SM.
Tempat diutus: Jaubar, Damaskus.
Tempat wafat: Palestina.
Sebutan kaumnya: Bangsa Arami dan Bani Israel.
Al-Quran menyebutkan namanya sebanyak: 2 kali.

21. YUNUS AS.
Nama: Yunus/Yunan/Dzan Nun bin Matta binti Abumatta, Matta adalah nama Ibunya. (Catatan: Tidak ada dari para nabi yang dinasabkan ke Ibunya kecuali Yunus dan Isa As.).
Garis Keturunan: Adam As. ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qinan ⇒ Mihlail ⇒ Yarid ⇒ Idris As. ⇒ Matusyalih ⇒ Lamak ⇒ Nuh As. ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyad ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra’u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Tarakh ⇒ Ibrahim As. ⇒ Ishaq As. ⇒ Ya’qub As. ⇒ Yusuf As. ⇒ Bunyamin ⇒ Abumatta ⇒ Matta ⇒ Yunus As.
Usia: 70 tahun.
Periode sejarah: 820-750 SM.
Tempat diutus: Ninawa, Irak.
Tempat wafat: Ninawa, Irak.
Sebutan kaumnya: Bangsa Asyiria, di utara Irak.
Al-Quran menyebutkan namanya sebanyak: 5 kali.

22. ZAKARIYA AS.
Nama: Zakariya bin Dan.
Garis Keturunan: Adam As. ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qinan ⇒ Mihlail ⇒ Yarid ⇒ Idris As. ⇒ Matusyalih ⇒ Lamak ⇒ Nuh As. ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyad ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra’u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Tarakh ⇒ Ibrahim As. ⇒ Ishaq As. ⇒ Yahudza ⇒ Farish ⇒ Hashrun ⇒ Aram ⇒ Aminadab ⇒ Hasyun ⇒ Salmun ⇒ Bu’az ⇒ Uwaibid ⇒ Isya ⇒ Daud As. ⇒ Sulaiman As. ⇒ Rahab’am ⇒ Aynaman ⇒ Yahfayath ⇒ Syalum ⇒ Nahur ⇒ Bal’athah ⇒ Barkhiya ⇒ Shiddiqah ⇒ Muslim ⇒ Sulaiman ⇒ Daud ⇒ Hasyban ⇒ Shaduq ⇒ Muslim ⇒ Dan ⇒ Zakariya As.
Usia: 122 tahun.
Periode sejarah: 91 SM-31 M.
Tempat diutus: Palestina.
Jumlah keturunannya: 1 anak.
Tempat wafat: Halab (Aleppo).
Sebutan kaumnya: Bani Israel.
Al-Quran menyebutkan namanya sebanyak: 12 kali.

23. YAHYA AS.
Nama: Yahya bin Zakariya.
Garis Keturunan: Adam As. ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qinan ⇒ Mihlail ⇒ Yarid ⇒ Idris As. ⇒ Matusyalih ⇒ Lamak ⇒ Nuh As. ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyad ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra’u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Tarakh ⇒ Ibrahim As. ⇒ Ishaq As. ⇒ Yahudza ⇒ Farish ⇒ Hashrun ⇒ Aram ⇒ Aminadab ⇒ Hasyun ⇒ Salmun ⇒ Bu’az ⇒ Uwaibid ⇒ Isya ⇒ Daud As. ⇒ Sulaiman As. ⇒ Rahab’am ⇒ Aynaman ⇒ Yahfayath ⇒ Syalum ⇒ Nahur ⇒ Bal’athah ⇒ Barkhiya ⇒ Shiddiqah ⇒ Muslim ⇒ Sulaiman ⇒ Daud ⇒ Hasyban ⇒ Shaduq ⇒ Muslim ⇒ Dan ⇒ Zakariya As. ⇒ Yahya As.
Usia: 32 tahun.
Periode sejarah: 1 SM-31 M.
Tempat diutus: Palestina.
Tempat wafat: Damaskus.
Sebutan kaumnya: Bani Israel.
Al-Quran menyebutkan namanya sebanyak: 5 kali.

24. ISA AS.
Nama: Isa bin Maryam binti Imran. (Catatan: Tidak ada dari para nabi yang dinasabkan ke Ibunya kecuali Yunus dan Isa As.).
Garis Keturunan: Adam As. ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qinan ⇒ Mihlail ⇒ Yarid ⇒ Idris As. ⇒ Matusyalih ⇒ Lamak ⇒ Nuh As. ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyad ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra’u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Tarakh ⇒ Ibrahim As. ⇒ Ishaq As. ⇒ Yahudza ⇒ Farish ⇒ Hashrun ⇒ Aram ⇒ Aminadab ⇒ Hasyun ⇒ Salmun ⇒ Bu’az ⇒ Uwaibid ⇒ Isya ⇒ Daud As. ⇒ Sulaiman As. ⇒ Rahab’am ⇒ Radim ⇒ Yahusafat ⇒ Barid ⇒ Nausa ⇒ Nawas ⇒ Amsaya ⇒ Izazaya ⇒ Au’am ⇒ Ahrif ⇒ Hizkil ⇒ Misyam ⇒ Amur ⇒ Sahim ⇒ Imran ⇒ Maryam ⇒ Isa As.
Usia: 33 tahun di bumi.
Periode sejarah: 1 SM-32 M.
Tempat diutus: Palestina.
Tempat wafat: Diangkat oleh Allah ke langit.
Sebutan kaumnya: Bani Israel.
Al-Quran menyebutkan namanya sebanyak: 21 kali, sebutan al-Masih sebanyak 11 kali, dan sebutan Ibnu (Putra) Maryam sebanyak 23 kali.

25. MUHAMMAD SAW.
Nama: Muhammad bin Abdullah.
Garis Keturunan Ayah: Adam As. ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qinan ⇒ Mihlail ⇒ Yarid ⇒ Idris As. ⇒ Matusyalih ⇒ Lamak ⇒ Nuh As. ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyad ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra’u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Tarakh ⇒ Ibrahim As. ⇒ Ismail As. ⇒ Nabit ⇒ Yasyjub ⇒ Ya’rub ⇒ Tairah ⇒ Nahur ⇒ Muqawwim ⇒ Udad ⇒ Adnan ⇒ Ma’ad ⇒ Nizar ⇒ Mudhar ⇒ Ilyas ⇒ Mudrikah ⇒ Khuzaimah ⇒ Kinanah ⇒ an-Nadhar ⇒ Malik ⇒ Quraisy (Fihr) ⇒ Ghalib ⇒ Lu’ay ⇒ Ka’ab ⇒ Murrah ⇒ Kilab ⇒ Qushay ⇒ Zuhrah ⇒ Abdu Manaf ⇒ Hasyim ⇒ Abdul Muthalib ⇒ Abdullah ⇒ Muhammad Saw.
Garis Keturunan Ibu: Adam As. ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qinan ⇒ Mihlail ⇒ Yarid ⇒ Idris As. ⇒ Matusyalih ⇒ Lamak ⇒ Nuh As. ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyad ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra’u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Tarakh ⇒ Ibrahim As. ⇒ Ismail As. ⇒ Nabit ⇒ Yasyjub ⇒ Ya’rub ⇒ Tairah ⇒ Nahur ⇒ Muqawwim ⇒ Udad ⇒ Adnan ⇒ Ma’ad ⇒ Nizar ⇒ Mudhar ⇒ Ilyas ⇒ Mudrikah ⇒ Khuzaimah ⇒ Kinanah ⇒ an-Nadhar ⇒ Malik ⇒ Quraisy (Fihr) ⇒ Ghalib ⇒ Lu’ay ⇒ Ka’ab ⇒ Murrah ⇒ Kilab ⇒ Qushay ⇒ Zuhrah ⇒ Abdu Manaf ⇒ Wahab ⇒ Aminah ⇒ Muhammad Saw.
Usia: 63 tahun.
Periode sejarah: 570-632 M.
Tempat diutus: Mekkah.
Jumlah keturunannya: 7 anak; 3 laki-laki Qasim, Abdullah dan Ibrahim, dan 4 perempuan Zainab, Ruqayyah, Ummi Kultsum dan Fatimah az-Zahra.
Tempat wafat: Madinah.
Sebutan kaumnya: Bangsa Arab.
Al-Quran menyebutkan namanya sebanyak: 25 kali.

(Disarikan dari: Qashash al-Anbiya' Ibn Katsir, Badai' az-Zuhur Imam as-Suyuthi dan selainnya).

Sumber : muslim.or.id

Semoga bermanfaat...!!!

Wallahul muwaffiq ila aqwamit-thariq.
Wassalamu Alaikum

Ya Allah...
😊✔ Muliakanlah orang yang membacastatus ini
😊✔ Lapangkanlah hatinya
😊✔ Bahagiakanlah keluarganya
😊✔ Luaskan rezekinya seluas lautan
😊✔ Mudahkan segala urusannya
😊✔ Kabulkan cita-citanya
😊✔ Jauhkan dari segala Musibah
😊✔ Jauhkan dari segala Penyakit, Fitnah,Prasangka Keji, Berkata Kasar, dan Mungkar
😊✔ Dan semoga yg me-LIKE, komen Aamiin dan membagikan status ini masuk Surga bersama Rasulullah aamiin..

KALAU BANGGA PUNYA NABI SEPERTI BAGINDA RASULULLAAH SAW, SILAHKAN BAGIKAN!!!

Semoga yg membagikn selalu mendapat pertolongan Allah SWT
AAMIYN..YAA.. ROBBAL 'AALAMIYN..

Boleh di SHARE sebanyak mungkin!! *************************** Kiriman dari WAG "Persatuan dan Ukhuwah Islam", 29/06/2017/Kamis Kliwon sktr pkl 02:10 WIB. Diteruskan oleh Guntur Sumilih di Waru Sidoarjo 61256/JaTim. Mohon maaf jika Anda pernah terima info yang sama. Semoga masih ada manfaatnya untuk menambah wawasan tentang Sejarah Nabi & Rasul. Aamiyn.

OBAT SAKIT GIGI

Resep JITU.....

Assalamualaikum wr wb
Berawal dari pngalaman pribadi sakit gigi g sembuh2 beberapa tahun yg lalu. dapat ilmu dari seseorang.

Jika sakit gigi sudah kambuh rasa sakitnya bisa sampai ke ubun-ubun. Banyak hal yang tidak bisa kita lakukan saat sakit gigi. Mulai dari susah makan, tidak bisa tidur, hingga melakukan aktivitas tertentu karena badan lemas. Pokoknya rasanya syahdu...

Resep JITU.. sdh terbukti di praktekkan ke diri pribadi dan beberapa orang. Alhamdulillah sembuh dan g pernah kambuh lagi.
.
Bahan
1. Kerokan kulit batang mangga
2. Garam dapur
3. Air hangat
.
Cara :
-Kupas kulit batang pohon mangga. Kerok bagian dalam kulit pohon mangga kira2 berukuran 10 x 10cm yg berwarna putih sampai keluar seratnya baik yg menempel d batang mangga, ataupun pada bagian putih yg menepel pada kulit bagian dalam kulit pohon yg sdh dikupas tdi.(Sembarang pohon mangga pokox yg sdh mengeluarkan getah dan kulitx sdah retak2, diutamakan pohon bagian kulit yg sdh tua).
-Masukkan ke dalam gelas kopi kecil. Tambahkan 1 sendok teh garam dapur aduk dengan air hangat lalu kumurkan sampai habis. Jgn lupa baca Bismilah
-Pada saat kumur usahakan tahan air di dalam mulut dan masuk kedalam gigi yg brlubang sampai air terasa dingin (sdh g hangat lagi). Ingat pakai air hangat ya... bukan air panas.
Cma buat kumur ya... Jgan d minum atau d telan
.
Efek :
Padat saat pertama kumur,gigi yg sakit memang terasa tegang (pokokx sampai sujud2 keluar air mata)setelah 3-5 mnit akan hilang tegangx.
.
Syarat :
Setelah di kumur, gigi yg berlubang jgn d sedot/d sesap2x lgi supaya pembuluh darah pda gigi tidak pecah lg. Insya Allah 2 sampai 3x berturut2 kumur pada hari berikutx (untuk penanganan supayah lbih manteb) gigi yg sakit akan segera sembuh total.
.
Entah apa kandungannya dr kutit batang mangga dan garam dapur itu, sampai skarang belum tau. Yang penting sakit gigi hilang dan ga kambuh lagi.
Itulah beberapa bahan yang dapat menyembuhkan sakit gigi silahkan dicoba semoga ilmu ini bermanfaat. Silahkan di share apabila yg sdh praktekin terbukti sembuh.
Karena amal ibadah yg pahalanya tidak putus2   diantaranya adalah ilmu yg bermanfaat.
.
Resep jitu by radent.